Wednesday, February 6, 2019

BUNCITANKU

Alhamdulilah, hari ini perit buncitku memasuki usia 38 week. Itu artinya, hanya tinggal menghitung hari saja menghadapi persalinan. Masyaallah, jangan ditanya bagaimana perasaannya sekarang. Hati, jiwa, semuanya bergetaaar menantikan masa yang amat spesial untuk pertama kalinya dalam hidupku.


Share:

Tuesday, February 5, 2019

LOVE 💞

Aku tahu, mengucapkan cinta sangat mudah dibanding dengan pembuktiannya.
Aku tahu, mencintai itu bukan lagi kata sifat melainkan kata kerja.
Aku tahu, bahwa bukti cinta itu ada pada patuh, bakti, dan keikhlasan.

Masyallah, kau tahu cukup banyak tentang cinta, ya. Tapi, dari sebanyak pengetahuanmu itu di mana posisimu sekarang? Serius aku bertanya, Wahai Diri.

Hai, aku Melin. Aku seorang istri dari lelaki soleh dan baik hati (insyaallah). Kami menikah sejak bulan April tahun lalu. Jika dihitung, itu berarti kami sudah menghabiskan waktu hampir satu tahun dalam biduk rumah tangga. Masyaallah, tidak terasa sama sekali.
"Apakah perasaan cinta itu masih menggema ke seantero dunia?"
Mohon jangan syok saat saya menjawab pertanyaan di atas. Malah semakin menggema. Melambung tinggi. Menggema ke seluruh jagat raya. Hahaha. Ya, sungguh. No tipu tipu.

Kenapa bisa begitu, ya? Apa selama ini tidak pernah bertengkar, ribut, silang pendapat, atau ngambek?

Wah, kalau itu, sering. Apalagi pas awal-awal saya hamil. Sensitiiif saja bawaannya. Suami kerja, nangis di pojokan. Suami nelefon di tempat kerja, diabaikan. Pokoknya, entah lah itu perasaan dari mana, yang jelas, masih manjaaa. Wkwk. Biasanya lebur lagi setelah suami pulang dan datang merayu. Bertanya dengan lembut kenapa, ada apa, dan meminta maaf. Semuanya kembali seperti sedia kala. Dan semakin membuat bertambah rasa cinta. Aihhh. Ngambek itu ternyata bumbu bagi kehidupan rumah tangga. Tanpanya, mungkin akan datar dan flat, ya, toooh? Tapi, jangan disengaja gitu, yaaa. Wkwk.

Ya, saya sudah hampir satu tahun hidup bersama lelaki soleh yang saya cintai. Kami sakit, sehat, tertawa, bersedih bersama. Subhanallah. That's so wonderful moment. And I love that. Suami saya amat saya cintai. Tak jarang saya mencurahkan rasa tersebut kepada suami lewat verbal. Wkwk. Saat dia tiba-tiba masuk ke ruang televisi saya bilang, "I miss you I love you, My Baby" suami hanya melongo mendengarnya 🤣 Lalu, saya memaksa minta balasan. Sambil main gadget kadang balasnya, "Yeah, yeah, me too" katanya. Ikh, gemaaas. Tapi, itu sudah membuat saya bahagia sekian masa. Terus, ada lagi momen kocak lainnya. Kala itu, saya juga mengucapkan kata cinta yang sama pada beliau, dan, ya, meminta balasan kata-kata serupa. Memang sudah fitrahnya lelaki, ya, Gengs, memiliki sifat cuek abis, gengsi, dsb, beliau menjawabnya masih seperti dulu sambil main gadget. Tapi, ini ada sisi lucunya. Saya sampai ingin ketawa guling-guling di lantai tapi sadar bahwa sedang hamil tua. Babybump sudah nyata. Beliau menjawab, "Yeah, yeah, you too" Saya awalnya tidak sadar dengan kalimat balasan beliau yang agak aneh. Tapi, lama-lama mikir juga, "You too? Maksudnya?" Saya tak tahan untuk tidak tertawa. Kok, "You too" sih jawabannya? Suami saya pun baru sadar dan kami tertawa bersama untuk beberapa saat.

Hahaha.

Ya, jujur, terkadang saya nyeloteh sendiri di rumah. Bermonolog ria istilahnya menggunakan bahasa Inggris. Ya, ngalor ngidul. Segala hal saya ucapkan. Bukan tanpa tujuan, walau dengan bahasa Inggris acak kadut, saya tetap PD, harapannya janin dalam perut aktif mendengar, akrba dengan suara ibunya dan terbiasa dengan bahasa tersebut karena sejauh yang saya tahu, apa yang biasa kita dengar, akan hafal dan masuk ke alam bawah sadar. Dengan menerapkan kebiasaan bermonolog menggunakan bahasa campur sari ini, saya harap janin di perut (khususnya) dan sekitar (pada umumnya suami saya) ikut terbiasa juga. Wkwk. Bahasa Inggris kan bahasa multinasional, ya. Semua aspek sekarang menggunakan bahasa Inggris sebagai persyaratan. Ilmu modern memakai bahasa Inggris. Ah, pokoknya, bahasa Inggris sudah harus jadi bahasa asing yang wajib dikuasai semua orang. Semoga eksperimen saya berhasil, ya.

Disebabkan sering berbicara menggunakan bahasa Inggris di keseharian, suami yang notabene pendengar setia jadi terbawa berucap. Walau ujung-ujungnya bikin saya terpingkal-pingkal mendengarnya. Uh, My Hubbyyy.

Misal saja saat beliau hendak pergi. He said, "I will go away" katanya. Hahaha. Ketawa saya. Rasanya kurang pas padahal untuk menyampaikan maksud bahwa saya akan keluar sebentar, tapi beliau keukeuh sakumaha uing bae berbicaranya. Saya benar-benar terhibur dan ngakak sendiri. Poin plus plus punya suami humoris. Istri jadi terhibur dan semakin cinta padanya. I love you, My Baby.

Saya juga baru menyadari bahwa kekurangan pasangan mau tidak mau akan kita hadapi. Pun hal serupa saya alami. Alhamdulilah, sepuluh bulan bersama, saya mulai menyelami sifat kekurangan dan kelebihan pasangan. Begitu juga dengan suami. Dan tak ada obat yang paling mujarab, selain, bersyukur dengan segala kekurangan dan kelebihan suami. Sebab, jika kita tidak mensyukurinya, pintu bagi syaiton akan terbuka. Selama menikah usahakan jangan ada pikiran-pikiran jelek, suudzan kepada suami, dan curiga. Karena hal tersebut penyebab syaiton masuk dan menggoda keimanan kita. Naudzubillah!

Ya Allah, terkadang saya bahagia tak terkira. Ketima saya ingat semua kalimat dari doa yang saya pintakan kepada Allah terkait jodoh ini. ALLAHU AKBAR. Ternyata, Allah kabulkan semua dan terwujud dari sosok suami. Betapa detailnya Allah mengabulkan semua keinginan saya terhadap jodoh. Masyaallah! Saya benar-benar dibuat takjub dan terpesona oleh kemaha dahsyatan doa dan mustajabnya berdoa di waktu sepertiga malam. Apa yang diungkapkan Imam Ghazali terkait doa di salat tahajud atau sepertiga malam memang benar adanya. Bahwa, doa yang dipanjatkan pada sepertiga malam itu bagaikan anak busur panah, takan melesat. Ya, benar-benar takan melesat. ALLAHU AKBAR!

Saya pinta banyak sekali kepada Allah terkait jodoh. Walau kata orang Allah Maha Tahu yang ada di dalam hati kita, saya tetap sampaikan satu per satu dengan detail dan jujur sejujurnya kepada Allah. Tanpa malu walau ada sedikit rasa tak tahu dirinya.

Saya bilang bahwa saya ingin sekali jodoh yang tampan wajahnya, karena saya suka lelaki tampan. Tampan dalam pandangan saya dalam sekali, meliputi yang tampak dan tidak. Bagi saya, lelaki tampan itu adalah dia yang berwibawa, bersih, rapi, wajahnya adem karena sering terbasuh air wudu dan tahajud, tidak jelalatan matanya, bahasanya tertata, santun, ramah, sopan, dsb. Panjang dan banyak sekali, ya. Wkwk. Juga, saya meminta lelaki yang bisa mengaji Alquran dengan tajwid dan kaidah yang betul. Takut sekali kepada Allah, lelaki yang sudah kenal makna tauhid, dsb.

Jujur, untuk beberapa poin, saya memintanya sudah sangat lamaaa sekali. Yakni ketika saya masih menjadi mahasiswa semester lima. Poin ingin lelaki yang tidak jelalatan matanya, yang takut kepada Allah, dan yang sudah mengenal makna tauhid itu lah tiga poin yang saya sudah pinta dan usahakan sejak lama. Kenapa saya meminta ketiga hal tersebut? Yang pertama, mata jelalatan menandakan dia tidak terjaga dan menjaga. Ini bahaya. Mata bagi kaum lelaki adalah pintu gerbang. Apalagi jika si mata dipakai untuk menatap perempuan. Bisa aktif dengan cepat imajinasinya. Uh, ngeri. Jika mata si lelaki tidak dijaga dan terjaga dari memandang hal yang bukan haknya, maka dari situ kita bisa melihat bagaimana keimanan yang ada di hatinya. WORSE. Keimanan lelaki ternyata bisa dilihat dari bagaimana dia menggunakan matanya.

Kedua, lelaki yang takut kepada Tuhannya. Kala itu saya aktif di masjid DT. Rutin ikut kajiannya, itikaf tiap akhir pekan, dan ikut kajian muslimahnya setiap Ahad siang. Berlama-lama tinggal di masjid, menjadikan saya lebih positif. Oleh karenanya timbul kebaikan yang Allah titipkan kepada saya hadiah dari seringnya berada di masjid. Yakni, menginginkan lelaki dan jodoh yang takut kepada Allah. Lelaki dengan model seperti ini pasti akan lembut kepada istrinya. Saya berharap sekali kala itu memiliki suami yang takut kepada Allah.

Ketiga, saya juga meminta lelaki yang paham makna tauhid. Paham di sini artinya dia sudah mengaplikasikan tauhid dalam berkehidupan. Tahu siapa pemberi rezeki, tahu untuk siapa dia hidup, dan tahu untuk siapa dia harus beramal. Intinya, keinginan ini efek saya sering tinggal di masjid, ikut kajian Aa dan meresapi gelombang positif dari masjid.

Pencarian jodoh yang selama ini saya lakukan, telah mengeliminasi sedikitnya sepuluh lelaki. Semuanya tidak ada yang sreg. Dari segi apa pun. Subhanallah. Dan, ternyata Allah punya cara-Nya sendiri. Saya yang tidak tahu cara dan strateginya. Hampir putus asa. Sampai meminta, siapa saja deh ya Allah asal dia mau sama saya. Tapi, ternyata Allah ingin menunjukan bahwa Dia adalah Tuhan yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa hambanya. Dia malu jika hambanya menengadah dan kembali dengan tangan kosong. Masyallah.

Saya yang sudah lupa dengan doa saya bertahun-tahun lalu, pasrah. Tidak lagi menaikan target lelakinya harus seperti apa asal dia MAU saja sama saya. Wkwk. Tapi, Allah ternyata memberi lebih dari yang saya harapkan.

Allah memberikan saya lelaki soleh, sesuai dengan keinginan saya zaman dulu yang tiga poin tadi dan bonus keinginan saya yang sekarang. Semuanya sepaket diberikan Allah lewat suami saya. Ya Allah! Saya sampai terengah-engah kala menyadarinya.

Padahal saya sudah lupa ya Allah. Allah ternyata menyimpannya apik. Mengumpulkannya rapi dalam sebuah tempat dan mewujudkannya lewat sosok suami. Ya Allah. Sosok suami saya saat ini memang gambaran permintaan saya selama ini. Sungguh. Tidak ada satu pun yang meleset. Masyaallah!

Saya kadang menangis selepas salat menyadari keajaiban ini. Bersyukur tiada henti atas kebaikan dan kemaha murahan Allah telah mengabulkan doa yang sudah saya lupakan itu. Maha Suci Allah, ya.

Saya hanya ingin berpesan kepada khalayak ramai, pembaca setia dan tak setia blog saya, bahwa, terus saja berdoa sampai doa itu menjuntai ke langit ke tujuh. Membentuk tangga-tangga cantik mengetuk 'arsy-nya Allah. Terus saja berdoa di sujudmu. Penuhi perut bumi dengan kalimat ikhlasmu berdoa. Yakin bahwa Allah akan mengabulkan doamu, besok atau lusa. Terus yakin dan terus berdoa tanpa henti. Walau kita sudah lupa tapi Allah menyimpannya dalam sebuah tempat yang suatu saat akan terwujudkan dalam kehidupan.

Doa, doa, doa.
Ikhtiar, ikhtiar, ikhtiar.
Niat, niat, niat.

Saat ini saya tengah menunggu kedatangan rasa mulas. Ya, sebentar lagi saya menghadapi persalinan. Sungguh tidak sabar untuk bertemu si buah hati yang diidamkan. Allah Maha Tahu kapan dia harus meluncur ke dunia, kita manusia hanya bisa menunggu sambil beristigfar meminta diampuni dosa dan khilaf selama hamil agar jalan lahir dimudahkan, bayi sehat, ibu selamat, suami selamat, keluarga selamat. Berusaha sekuat tenaga agar proses melahirkan normal tanpa hambatan berarti. Terus berdoa dan berikhtiar. Allah Maha Melihat. Allah Maha Mensyukuri.

Tapi, saya masih kepikiran terkait nama. Ada satu nama yang menurut saya bagus sekali, dan cocok disematkan untuk anak lelaki. Sayang, nama tersebut sudah terlebih dahulu tersemat jadi nama kucing peliharaan tetangga komplek. 😥😥😥

Sakiiit. Uhuk. Akhirnya, ridha dengan nama pilihan suami. Inisial saja, ya, namanya MZM. Hihi. Nantikan saja, deh, pengumuman resminya. Hehehe.

Untuk semuanya let's thank to Allah who has given us so many things in this world.

Share:

Tuesday, January 22, 2019

SUPRISED FROM YOUTUBE

Dua hari yang lalu, ponsel saya menunjukan pemberitahuan dari YouTube. Pemberitahuan itu menampilkan bahwa ada seseorang yang mengomentari video saya di YouTube. Saya tidak terlalu tertarik untuk membukanya langsung, sebab saat itu saya sedang sibuk dengan urusan rumah. Maka saya biarkan saja. Tapi, bukannya hilang, notif itu makin bertambah. Saya pun bertanya-tanya, "Siapa, sih ini?" Saya buka sekilas, tidak kenal ah namanya. Siapa itu. Saya lagi-lagi membiarkannya. Sambil beraktivitas, notif tadi kepikiran juga. Dalam benak ada satu nama yang saya rasa adalah orang yang mengomentari video di akun YouTube tersebut. Saya belum yakin sebelum melihat langsung tapi kesibukan tidak sempat memberikan saya waktu untuk melihat notif tersebut. Akhirnya, saat hendak tidur saya baru bisa membuka notif tersebut. Dan, ya, benar. Satu nama yang tadi siang terpikirkan oleh saya, benar adanya.

Dia adalah murid saya. Tahun ajaran 2016-2017 saya jadi pendampingnya selama satu tahun. Dia memang antusias jadi YouTuber, edit video, dsb. Saya pun pada tahun itu sedang antusias-antusiasnya bermain YouTube dan edit edit video. Dari keantusiasan tersebut, kami match ternyata. Sering berbalas komentar dan ketawa-ketawa bersama membahas hal tersebut di sekolah.

Lagi-lagi, ini kejutan yang kesekian kalinya dari teman-teman kecil saya. Hehe. Menyenangkan. Bagaimana tidak meleleh perasaan ini dibuat bahagia oleh hal-hal kecil dari mereka?

Abit namanya. Dia masih saja ingat momen di YouTube-land hingga kini. Padahal saya sudah tidak aktif di YouTube dan jarang upload lagi. Sungguh lucu. Dari peristiwa ini, saya jadi install editing video. Bersemangat upload video lagi. Meramaikan YouTube-land.

Saya akan ingat ini semua. Semoga jadi pemecut semangat saya untuk terus belajar dan belajar. Jadi lebih baik.

Share:

Friday, January 11, 2019

Another Surprise

Sore ini, saya dikagetkan oleh sebuah notifikasi  di salah satu media sosial yang saya gunakan. Di jendela pemberitahuan ponsel terpampang tulisan bahwa sebuah akun telah mengikuti saya. Sebuah nama yang tidak asing di otak. Nama yang sering jadi topik hangat pembicaraan saya dan teman kosan saya saat lajang dulu. Nama yang dimiliki oleh orang tertampan di sekolah, juga jadi favorit kebanyakan anak-anak perempuan sebayanya. Anak yang ramah, tamah, sopan, dan baik. Aduh, terlalu panjang tampaknya saya mendeskripsikan doi. 😝 Khawatir pembaca mati penasaran, baik, saya buka saja profilnya.



Melihat jendela pemberitahuan di ponsel seperti yang saya jelaskan di atas, saya meleleh, bahagia, terharu, dan girang. Pasalnya, saya dan dia sudah dua tahun berpisah. Saya membersamai dia tiga tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun dua ribu enam belas. Saat dia masih unyu-unyu duduk manis di kelas tiga. Sekarang dia sudah di kelas lima. Sudah besar. Dan jika dilihat di akun IGnya dia semakin gemuk saja. Tapi, dia masih ingat kepada gurunya. Ah, saya tak pantas disebut guru, mungkin lebih tepatnya kawan dari golongan orang dewasa kali, ya. Hihi. Dia masih ingat saya dan ketiadaan saya di sekolah tampaknya sadar tanpa sadar membuat dia bertanya-tanya, "Ke mana Bu Melin?" Dan benar. Setelah saya konfirm untuk berteman, saya komen IG Story-nya, dia langsung bertanya, "Sekarang Bu Melin kerja di mana?" Uhuhuhu. Luar biasa perhatian kalian, Sobat Kecilku. Untuk sepersekian detik, saya terharu, Guys! Hiks hiks.

Memang, angkatan kelas tiga tahun 2016-2017 yang dulu pernah saya handle, very special di hati. Mereka masih sayang dan perhatian kepada saya. Walau tidak semua. Dan beberapa nama masih menempel di hati, masih terlambung doa ke langit.

Kebersamaan selama satu tahun bersama mereka, memang saya lewati dengan penuh kesungguhan, kebahagiaan, totalitas, dan happiness. Saya sebagai fasil juga menjabat sebagai kawan mereka. Ikut andil saat mereka main benteng, main kejar pohon, main ayunan, main peran sebagai sebuah keluarga, dll. Pokoknya, saya membersamai mereka full. Full heart, full body, full time, dan full full lainnya. Sehingga, efeknya? Ya, begini. Baik mereka mau pun saya sama-sama terus teringat kebahagiaan dan masa-masa kebersamaan bersama mereka. Masih basah hati ini oleh tawa, cinta, dan kebahagiaan bersama mereka.

Termasuk kebersamaan dengan sebuah nama yang mem-follow akun saya. Saya sering sekali mengobrol hal-hal sepele dengannya. Sering juga ikut bermain walau mereka lelaki. Pokoknya, saya sering hadir di segala aktivitas mereka. Maka, jangan heran jika mereka, bocah-bocah kecil manis ini masih ingat pada guru mereka. Ups, maksud saya bukan guru tapi kawan dari golongan orang dewasa, Guys!  Hehe.

Memang, kabar resign saya tidak tersebar luas ke semua teman-teman kecil yang pernah saya temui. Sebab, saya resign di saat mereka libur panjang. Saat masuk, baru mereka sadar bahwa ada satu fasil yang sudah tidak mengajar lagi di situ. Dan siapakah yang sadar pertama kali? Yup. Dia adalah seorang gadis kecil putih cantik yang dulu pernah ngambek gara-gara tidak bisa duduk di samping saya kala salat zuhur tiba. Dia anak yang sadar pertama kali. Selanjutnya, saya tidak tahu siapa. Dan Danesh (ups), akun yang tiba-tiba mem-follow saya, adalah anak yang mungkin baru sadar akan ketiadaan saya di sekolah setelah hampir setahun saya resign dari sekolah alam. 😝

Subhanallah. Sungguh saya tak henti bersyukur mendapatkan kejutan demi kejutan setiap waktunya. Kejutan berupa perhatian dari teman-teman kecil saya. Betapa bahagianya. Semua jadi pelecut bagi saya untuk terus on fire melanjutkan karir mendidik saya. Terus belajar berbenah, membenahi diri, hati, dan juga pikir, agar bisa ditakdirkan Allah mengajar kembali. Mengajar wajah-wajah kecil, wajah-wajah salih/ah, wajah-wajah sendu dan teduh.

Terimakasih, Allah SWT atas kebaikan-Mu. Mengirimkan malaikat-malaikat kecil dalam kehidupan hamba yang fakir ini. Mereka bagaikan kado berkilau yang dikirim Tuhan dari surga.

Sobat Kecilku, jadi lah anak salih/ah. Ibu menunggu kiprahmu di dunia, terutama dunia Islam. Ibu akan terus mendoakan kalian. Walau kita sudah tidak lagi bersama. Ibu masih ada, semoga doa itu pun terus mengangkasa. Sampai kapanpun kalian adalah anak-anak Ibu yang manis dan baik. Walau Ibu bukan lah Ibu kandung kalian, hanya ibu kedua kalian, Ibu akan tetap langgeng mendoakan kesuksesan dan kebaikan bagi kalian. Sungguh, Ibu rindu kebersamaan bersama kalian, Guys! Main benteng bareng, main polisi-polisian bareng. Suka duka sudah kita jalani sama-sama. Kita lebih dari sebuah kesatuan di kelas tiga, tapi kita adalah keluarga. ☺️😘🤗

Harta yaaang paling berharga, adalah keluarga 😁😁😁 by Keluarga Cemara.

OK sudah, sampai sini saja curcolnya, ya. Memang, menjadi pendidik itu menyenangkan. Kita selalu diingat oleh murid. Menyenangkan kalau mengingat yang menyenangkannya, tapi menjadi pendidik juga sebuah tantangan super besar. Banyak tantangan di luar sana yang menuntut kebesaran hati para pendidik.

Terus lah jadi pendidik sampai akhir hayat. Menerbitkan tunas-tunas terbaik lewat mendidik. I love you, Guys! My little friends. 
Share:

Thursday, January 10, 2019

Sepotong Senja yang Mengkilat

Setiap senja datang, dia selalu mampu memikat siapa saja yang memandang gurat warnanya yang jingga. Sebab kecantikannya yang memesona ini, banyak sekali sastrawan yang merangkai kata dan syair mendeksripsikan keindahannya. Atau mencomotnya dalam sebuah alur cerita untuk memperindah isi cerita.

Begitu pun dengan sang fakir ilmu ini, saya. Setiap kali senja datang, ada nafas yang terhela dengan lantunan doa. Doa kepada Sang Pemilik Senja semoga senja saya diberkahi. 

Saat saya menatap langit atau sorot matahari yang penuh kemilau jingga, di sana jiwa saya mengangkasa. Membayangkan bahwa di jam ini lah para burung yang melanglang buana mencari rezeki, pulang berduyun-duyun sambil tersoroti cahaya jingga. Para pedagang pulang dari bekerja dengan peluh dan sisa tenaga. Para petani berkemas membereskan peralatan karena senja sudah menggelar pertunjukan.

Di satu sisi, bumi pun tengah berkemas untuk menyambut malam, menyambut bintang, menyambut angin, menyambut dingin, menyambut rencana orang-orang jahat yang mempersiapkan kejahatan di malam kelam, menyambut karyawan-karyawan pabrik yang bekerja di shift malam. Semua berkemas dan bersiap sebab senja sudah tampak. Gurat jingganya sudah tergelar di sepenjuru langit. Masuk ke ruang lewat lubang ventilasi rumah. Menumpahkan kenangan, asa, dan harapan.

Senja telah datang. Kemilaunya membaurkan kenangan. Warna jingganya memberikan kesegaran. Guratnya mengangkasakan harapan.

Selamat menikmati senja. Jangan lupa dzikir petang. 
Share:

Wednesday, January 9, 2019

Si Super Care

Ada satu hal unik yang saya alami. Saya sudah sering menyebut bahwa sudah hampir satu tahun saya ke luar dari SABin sebagai pengajar di sana. Namun, subhanallah, murid-murid masih saja aktif menanyakan kabar via direct message Instagram. Siapa yang tidak meleleh?
Namanya Kayla. Dia adalah murid saya di kelas tiga di tahun ajaran 2017-2018. Anak paling bongsor kedua setelah Iffa. Paling dewasa di kelas. Jangan heran kalau dia sering dipanggil Kakak oleh teman-temannya yang dominan bertubuh mungil. 
Selama membersamai mereka di kelas tiga, memang saya akrab dengan Kayla. Sosokanya yang tampak dewasa sudah asyik kalau diajak mengobrol ke sana ke mari. Mungkin, ini salah satu faktor kenapa dia masih sering menanyakan kabar. Kami dulu akrab, sih. Hihi.
Kini, dia sudah duduk di kelas empat. Punya teman baru, fasil baru, ambisi baru, hobi baru, dan kondisi fisik yang pastinya baru juga. Namun, cara dia bersikap kepada saya menjadikan saya terharu, merindu, dan ingin sekali kembali mengajar anak-anak. Bertemu Kayla Kayla yang lain. Anak-anak berwajah teduh yang rasa pedulinya menjulang ke langit. MasyaAllah, ku rindu mengajar wajah-wajah kecil, lucu, nan imut. Juga teduh sebab kesalihan orangtuanya. Mudah-mudahan di sini ada wajah-wajah itu. Wajah dengan karakter terbaik, tersopan, tersalih. Sehingga, bukan hanya mereka yang belajar tapi aku pun ikut belajar dari mereka.
Sifat peduli sungguh membanggakan. Kepedulian hadir saat anak selalu dilatih untuk peka pada kondisi sekitar. Peka bertanya, peka membantu, peka menolong dan merespon. Mudah-mudahan, anak yang kukandung pun dapat menjadi anak yang peduli pada sekitarnya. Aamiin.
Kembali ke pembahasan utama. Kayla ini sering sekali menanyakan kabar, menanyakan kondisi kehamilan, dan yang lucunya, dia juga ikut menghitung kehamilan saya. Biasanya dia menebak, "Ibu, sudah delapan bulan, ya, hamilnya" begitu ungkapnya. Suatu waktu dia datang dengan kabar bahwa Gadis (salah satu murid saya juga) pindah ke Tasikmalaya. Kabar yang mencengangkan. Sungguh, Kayla baik sekali.

Akhir kata, kuhanya mampu mengucap syukur atas kebaikan Allah terhadap diri yang dhuafa ilmu ini karena telah mempertemukan dengan harta-harta berharga yang tak ternilai harganya. Mudah-mudahan, di sini, ada kesempatan yang Ilahi buka untukku mengajar dan belajar pada wajah-wajah teduh berkarakter langit. Aamiin.
Share:

Kado Terbaik untuk Sebuah Perpisahan


Sudah hampir satu tahun saya berpisah dengan teman, sahabat, keluarga besar Sekolah Alam Bintaro. Sebuah tempat bersejarah dalam hidup saya. Di situ, qodarullah, saya menemukan makna hidup, mengajar, mendidik, dan bekerja. Pokoknya, SABin landasan saya menjadi seperti saat ini (memang sekarang seperti apa, ya? Hehe).
Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Begitu pun apa yang saya alami di SABin. Pertemuan dengan orang-orang hebat di sana ada pula waktunya berpisah.
Dua tahun saya "mondok" di SABin. Di sana saya menemukan sahabat, keluarga, dan teman yang berjenis rupanya. Hehe. Ada yang masih berkomunikasi, ada pula yang sudah lost contact.
Satu teman yang sudah saya anggap keluarga sendiri salah satunya yang masih sering menjalin komunikasi dengan saya. Bertanya kabar, mengabarkan kabar bahagia dari teman-teman di sana, dll.
Selama bekerja di sana pun, kami sering meluangkan waktu berdua hanya untuk sekedar mengobrol, saling curhat-curhatan, dan berbagi beban. Biasanya sepulang kerja, jika keduanya tidak sibuk, kami duduk di bangku panjang sampai menjelang magrib. Berdua saja. Mengobrolkan segala hal. Dan itu lah yang menjadi kenangan terindah bersama sahabat yang satu itu. Memori yang paling dirindukan. Hihi.
Sebagai seorang sahabat, rupa-rupanya sobat saya ini sering sekali mengamati saya. Tentu dia pengamat sejati. Bukan hanya saya saja sih yang dia amati. Segala hal dia amati. Termasuk saya yang dirasa punya kebiasaan unik dan berbeda dari temannya yang lain.
Memang saya punya kebiasaan apa, sih?
Selama dua tahun berkarya di sana, saya tidak sadar kalau sobat saya ini mengamati tingkah saya. Saya melakukan semua aktivitas di sana karena itu adalah kebiasaan saya sehari-hari. Sudah melekat dalam diri. Saya baru tahu kalau dia mengamati setiap gerak gerik saya setelah setahun kami berpisah. Dia mengungkapkan hal tersebut di Whatsapp. Dia mengatakan bahwa dia selalu mengamati saya ketika salat. Di mata dia, saya ini rajin karena selalu melakukan sesuatu. Tidak pernah meninggalkan suatu kebiasaan tersebut walau kondisi saat itu genting atau apalah. Selama dua tahun itu dia mengamati saya. Setelah saya menetap di Bandung, dia merindukan pengamatannya kepada saya. Kerinduan itu pada akhirnya mengantarkan dia untuk menerapkan kebiasaan saya selama di sana. MasyaAllah.
Mendengar pengakuannya, saya terkejut dan tidak menyangka sama sekali. Di sisi lain saya bersyukur dia mau mengikuti kebiasaan tersebut. Di sisi lain saya jadi sadar bahwa di dunia ini banyak sekali mata-mata yang memperhatikan meski kita tidak sadar. Sekekal-kekalnya mata pengamat adalah pengamatan Allah, Dia lah pengamat tingkah laku kita yang paling setia dua puluh empat jam non-stop tanpa henti. Tapi, kadang memang kita tidak sadar keberadaan pengamat tersebut. Sehingga bebas saja dalam melakukan sesuatu. Untung sekali jika apa yang kita lakukan itu adalah hal baik-baik, sehingga orang yang mengamati pun merasa tertarik. Coba bagaimana jika kebiasaan kita itu buruk? Sang pengamat pasti muak melihatnya. Boro-boro tertarik ikut melakukan kebiasaan yang sama mungkin malah murka dan merasa jijik.
Sesungguhnya, hadiah perpisahan paling indah adalah sebuah kebaikan, ya, Guys! Kenang-kenangan yang paling bagus untuk sebuah perpisahan adalah kebaikan. Wah! Betapa indahnya. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang selalu berbuat baik dalam kondisi apa pun. Agar, para pengamat kita di dunia ini dapat merasa bangga. Dan tentunya agar kita terus dalam ruang lingkup kebaikan. Mudah-mudahan dengan begitu, ketika Izrail datang menjemput ruh, kita dalam keadaan baik, kondisinya baik, diambil dengan cara yang baik pula.
Teman-teman, pesan saya, dawwamkan lah satu amalan atau ibadah. Jadikan amalan kecil itu sebagai jembatan pertolongan Allah untuk kita. Penolong saat di akhirat nanti. Tak perlu amalan yang sulit, yang mudah saja. Misalkan istiqomah salat dhuha, istiqomah menjaga wudu, istiqomah berdzikir. Dengan amalan kecil yang didawwamkan, semoga banyak pengamat yang mau mengikuti kebiasaan kita tersebut. Sunnah everywhere. 😊
Kembali ke bahasan utama. Ya, sahabat saya pun merasakan kerinduan yang sama. Dia rindu mengobrol berdua dengan saya. Rindu liqo, dll. Namun, kerinduan itu hanya sebatas kerinduan, sebab jarak dan kesibukan yang memisahkan. Bintaro-Bandung jarak yang amat jauh. Apatah dia bekerja sampai sore. Kami jarang komunikasi. Maka, dia mengobati kerinduannya itu dengan cara melaksanakan kebiasaan saya di sana. Subhanallah. Padahal, bagi saya pribadi, apa yang biasa saya lakukan itu adalah hal biasa bagi saya, karena sudah menjadi kebiasaan. Kalau ditinggalkan serasa ada yang hilang. Namun, di mata orang berbeda, ya, Guys! Setiap mata selalu punya cara pandang masing-masing. Tentu, karena setiap pupil mata dicipta Allah berbeda-beda pada setiap orang. Ada orang yang matanya sipit, belo, biasa. Maka dari perbedaan itu kita bisa ambil hikmahnya bahwa setiap mata juga punya sudut pandang yang berbeda dalam melihat sesuatu.
Akhir kata, saya salut pada sobat saya ini. Dia tidak "adigung" untuk menerima ilmu baru. Dia terbuka untuk hal-hal baru bagi dirinya. Walau itu datang dari sahabatnya sendiri yang masih dhuafa dari berbagai sisi. Saya berdoa mudah-mudahan dia terus dijaga dan dibimbing oleh Allah SWT. Menjadi pribadi yang terus berbenah demi diridhoi Allah 'aja wa zalla. Aamiin.
Share:

Monday, January 7, 2019

Kenangan Sakit di Dustira


Bismillah
Sudah lama pisan tidak nulis di sini. Saya rindu! Beberapa waktu yang lalu memang saya terhimpit kesibukan mengurus rumah tangga.
Saya mau sharing pengalaman sakit kemarin. Boleh?
Qodarullah, saya dan suami ditakdirkan sakit di waktu bersamaan 😁 *kompak banget, ya. Suami terdiagnosa radang lambung (awalnya). Beliau demam tinggi dua hari. Saya cukup panik. Tapi, kegesitan mamer akhirnya membuka jalan kesembuhan untuk suami. Hari ketiga suami sudah pulih ke sedia kala. Ups. Tapi, aku lalai mengingatkan. Kami malah makan (sarapan) nasi padang pakai sambal hijau. Akhirnya, siangnya saya yang tumbang. Perut saya panas, diare, panas dingin, dan malamnya saya demam tinggi. Empat hari saya demam dengan suhu 39° C plus plus plus. Wow, ini amat berbahaya sekali untuk janin! Di malam kedua demamnya saya, suami pun ikut kambuh lagi. Akhirnya kami tumbang. Mengungsi ke rumah Mamah 😂 semalam diurus sama Mamah. MasyaAllah!!! Kedua kali ini suami terdiagnosa gejala DBD, begitu pun saya. Katanya ini mirip-mirip dengan gejala DBD.
Pada hari Senin, 24 Desember 2018 saya dan suami berkunjung ke Rumkit Dustira. Rumah Sakit milik TNI di daerah Cimahi. Sesampainya di sana, sangat disayangkan, poliklinik rumkitnya tutup kecuali UGD. Kami pun balik lagi. Sepanjang jalan pun tak gentar mencari klinik yang buka di waktu cuti bersama. Tapi tak ada hasil.
Akhirnya, kami kembali ke Dustira pada tanggal 26 Desember 2018 setelah sebelumnya suami bertanya ke temannya yang bekerja di sana apakah polinya sudah buka? Ya, ternyata tanggal segitu poli rumkit tersebut sudah buka. Alhamdulilah.
Kami berangkat pagi sekitar pukul delapan dengan menggunakan jasa mobil online. Suami mau pun saya kondisinya puyeng, lemas, dan tak karuan. Tapi, masyaAllah, suami kuat banget. Beliau mampu bertahan walau pusing. Berjalan ke sana ke mari melayani saya.
Kami diperiksa sekitar pukul sebelas setelah menunggu dan mendaftar. Dan hasilnya, dokter yang memeriksa saya menyarankan agar saya dirawat inap. Wow!
Setelah berunding, awalnya suami meminta saya rawat jalan saja. Mungkin beliau memikirkan biayanya yg tidak murah. Apalagi di kelas dua, umum pula. Ngeri! Tapi, bu dokternya menyarankan dengan sangat agar saya dirawat sebab demam saya terlalu tinggi, khawatir berbahaya bagi janin. Akhirnya, setelah suami menelfon Mamah, Mamah juga setuju agar saya dirawat karena sedang hamil, saya dirawat juga.
Setelah suster menyiapkan semuanya, sekitar pukul dua saya didorong dengan kursi roda oleh suami menuju ke ruang rawat inap. Rasanya nikmat sekali kaki dan badan saat itu. Inginnya tiduran saja. Tak ada kekuatan. Tapi, suami saya malah semangat sekali mendorong kursi roda, serasa sedang memainkan mobil sepertinya, cepat sekali mendorongnya, beloknya tajam ujung-ujungnya menabrak orang. 🤣 Oh, sayangkuuu.
Setelah menemukan ruang inap, saya berbaring. Ditinggal suami mengurus segalanya. Padahal dia pun sedang tidak fit. Sungguh saya tak tega. Tapi apa mau dikata. Kami tidak mau merepotkan orang banyak. Suamikuuu. 😍😍😍
Akhirnya, saya dipasangi infus untuk pertama kalinya. Ouch! Sakit sekali saat suster menusukan jarum ke urat saya di tangan. Darah segar mengucur deras diinfus sebelum cairan infusannya beraksi.
Selama kurang lebih lima hari saya dirawat di rumah sakit ditemani adik ipar yang kala itu tengah libur mengajar. Terhitung dari hari Rabu, sampai hari Ahad saya di rumah sakit. Lalu apa saja yang saya alami di sana?
Pertama masuk, ruang inap saya sudah terisi oleh dua orang pasien. Satu pasiennya ibu-ibu sekitar empat puluh tahun. Satunya lagi seorang remaja sekitar sembilan belas tahun. Saat datang, dua kasur kosong. Awalnya saya menempati kasur di dekat pintu masuk, tapi suami menyarankan saya pindah ke kasur dekat jendela. Akhirnya saya menurut.
Ruang inapnya sendiri terdiri dari empat kasur yang dihijabi oleh gorden berwarna hijau pucuk daun pisang. Segar. Mungkin harapannya begitu kenapa dipasang warna hijau pucuk.
Saya tiduran dengan kondisi badan menggigil kedinginan. Sudah menunggu lama tapi belum juga saya ditangani. Merasa kesal dan sebal, saya bangkit dengan sisa-sisa kekuatan menuju ke ruangan suster penjaga. Di sana saya bertanya pada suster gempal berkacamatan yang agak judes gitu kan, kenapa penanganan lama sekali sedangkan saya sudah menunggu dalam kondisi yang memprihatinkan. Ternyata, saya harus menunggu suami datang membawa resep dokter berupa sirup batuk. Tak lama setelah saya komplain atas ketidaknyamanan tersebut, suami datang diikuti suster. Segera suster tersebut menyuntik dan memasang infusan dengan terampil. Alhamdulilah saya cukup tenang.
Sakit dan dirawat adalah pengalaman pertama saya. Diinfus, diambil darah, makan makanan rumkit, uh, benar-benar hal pertama bagi saya sepanjang hidup. Awal-awal di sana, saya lahap menghabiskan makanan yang tersedia. Tapi, setelah menjelang pulang, malah mual dan enek lihatnya 😂 sungguh terlaluuu, ya.
Menjelang malam, sekitar pukul tujuh, saat saya sedang istirahat menuju tidur, ada pasien baru. Dia menempati kasur yang sebelumnya saya tempati, yakni yang di dekat pintu. Pasien ini sudah tua. Beliau muntah-muntah semenjak datang ke ruangan. Dia di samping saya. Saya memaklumi kondisinya yang mual-mual, muntah, dan sering berak tersebut. Pada malam berikutnya, kondisi ibu tua ini semakin parah. Akhirnya dia dipindah ke ruangan lain untuk dibantu oksigennya. Tinggal sisa dua.
Pasien di depan saya yang seorang wanita paruh baya, amat ramah sekali. Bertanya, tersenyum, mengobrol bersama saya. Sejenak, jika diteliti wajahnya mirip sekali dengan orang Batak. Tapi, entah benar apa tidak, hehe. Baru semalam saya di situ, ternyata ibu itu sudah waktunya pulang. Yah. Sangat disayangkan. Heuheu. Ya, beliau pulang di Kamis sore. Dan ternyata anak ABG itu pun sama. Sudah dibolehkan pulang. Akhirnya, penghuni ruang empat kelas dua itu tersisa tinggal aku serang.
Malam pun tiba, rutinitasku ya tidur, ke kamar mandi, main hp, lalu tidur. Xixi. Pasien penghuni ruangan itu tersisa saya saja. Serasa di ruang VIP lah. Hahaha. Leluasa mau apa pun. Tapi, tidak lama dari itu, sekitar pukul satu dini hari ada pasien baru masuk. Menghuni kasur di depan saya. Dia seorang mahasiswa dan seorang karyawan yang kena tipus. Dia diantar oleh dua orang temannya. Saat datang, aku dan Dek Putri sedang tertidur. Namun, jadi terbangun karena kedatangan mereka cukup bising. Apalagi saat salah satu pengantar itu keluar masuk kamar mandi. MasyaAllah, menutup pintunya kencang sekali. Sampai aku membaca istigfar karena kaget beberapa kali. Lain lagi dengan temannya yang satu lagi saat melangkahkan kaki, suara sandalnya itu cukup membuat telinga jadi terganggu karena keras sekali suaranya. Ditambah itu dini hari, suasana sepi. Setelah diinfus dan berbaring, mereka masih ngobrol. Subhanallah. Suaranyaaa. Tak terkontrol. Mata yang baru saja terlelap pun tak dapat lagi tertutup. Ya, ini lah kelas dua itu.
Beberapa jam setelahnya, yakni sekitar pukul lima, pasien baru datang. Kali ini ibu beranak satu. Dia sakit ulu hati karena saat perut kosong, dia makan sayur yang ada cabainya. Ulalaaaa. Macam-macam, ya.
Setelah beberapa jam berlalu, datang lagi pasien baru. Kini menghuni kasur di sampingku. Dia sudah berumur. Sama seperti pasien sebelumnya, dia pun muntah-muntah. Akhirnya, ruangan ramai lagi. Dihuni lengkap oleh empat pasien. Namun, bedanya, kali ini pasiennya tidak seseru yang sebelumnya. Pasien sekarang cenderung diem diem baeee. Saya pun enggan memulai. 😁
Hari Ahad pun tiba, kondisi saya sudah lebih baik dari sebelumnya. Dari hari Jumat, saya dan suami sepakat untuk pulang di hari Sabtu. Namun, rumkit belum membolehkan. Masalahnya, kalau lama-lama, biayanya pun makin besar. Duh! Akhirnya, setelah susternya saya coba lobby dengan mengatakan bahwa penjaga saya sudah mau masuk kerja, sedangkan suami saya juga belum sembuh, masih dirawat di rumah. Kalau pulangnya hari Senin, saya khawatir tidak ada yang bisa menjaga. Dengan alasan tersebut saya diperbolehkan pulang. Catatannya di rumah trombosit saya diusahakan harus naik, karena setelah dites darah di lab, darah saya menujukan bahwa trombosit yang awalnya 150 berkurang cukup drastis jadi 130. Ini yang berbahaya. Selama di rumkit, saya disarankan banyak minum agar virusnya ikut ke luar dengan air kencing. Tak disangka, keluarga suami perhatian juga. Saya dijenguk. Oleh Bi Leli, Kakaknya suami, dan sepupu suami. Hihi. Alhamdulilah. That's family for.
Setelah melobby suster, akhirnya Ahad siang saya pulang juga. Dijemput suami pulang dengan menumpang mobil online. Alhamdulilah suami juga sudah lebih baik. Saya senang sekali. Pulang-pulang teh bawa cucian, tikar bulu, dan segala perlengkapan yang kemarin sempat di bawa ke rumkit 😂 Suami tentu yang bawa. Hehe.
Ternyata, biaya lima hari lima malam yang saya lalui di sana berjumlah dua juta. Total ruangan, makan, dan obat. Alhamdulilah. Awalnya saya kira mencapai tiga jutaan. Wadaw. Ngeri saya. Hahaha.
Selain oleh-olehnya pakaian kotor dan perlengkapan bekas dirawat, saya juga bawa sekantong obat sebagai oleh-oleh. Vitamin hamil, penambah darah, untuk lambung, dsb.
Saya juga mikir-mikir, apa benar saya kena gejala DBD? Kalau melihat beberapa cirinya, sih, iya, saya kena gejala DBD. Seperti pegal-pegal, mimisan walau tak ke luar, dan demam tinggi. Tapi, saya juga diberi obat lambung. Herannya saya di situ. Setelah baca referensi baru saya paham kenapa ada obat lambung segala. Kenapa? Ya, karena sebenarnya DBD itu belum ada obatnya yang pasti, jadi, pasien hanya akan diberikan obat sesuai dengan keluhannya saja.
Di atas saya sebutkan, bahwa kaki saya pegal-pegal. Nah, setelah pegal itu hilang, di kaki saya muncul ruam-ruam merah di pori-pori. Seperti bintik-bintik gigitan nyamuk, tapi bukan. Ruam merahnya itu menutup pori-pori saya di kedua kaki. Saya ngeri melihatnya. Jadi, ini penyebab kaki saya pegal. Tapi, apa betul ini pertanda saya kena gejala DBD? Saya masih belum yakin, sebab menurut dokter yang mengukur tensi darah saya, katanya ini bukan DBD tapi sembelit.
Nah, setelah kami kembali menempati kontrakan, suami pun bilang bahwa kondisi saya dan beliau yang mirip DBD itu bukan DBD tapi bisa saja dari lambung. Saya pun mengangguk-angguk tanda setuju dan sepaham. Iya, bisa jadi. Kondisi saya dan suami yang mirip DBD itu sejatinya bukan DBD tetapi berasal dari lambung. Wallahua'lam.
Sekarang, sudah seminggu saya di kontrakan. Saya coba menjalani hidup dan pola makan yang baik dan benar agar kejadian serupa tidak terjadi kembali. Saya sadari, bahwa sepertinya kesalahan ada di saya selaku aktor yang menyiapkan dan menghidangkan makanan untuk suami setiap hari. Suami dan saya seringnya menahan lapar. Makan sedikit karena kurang nafsu makan. Ditambah kalau masak pasti selalu ada cabainya. 🤣 Itu bahaya.
Sekarang, sarapan diusahakan harus tersejai pukul enam pagi. Makan siang harus sudah tersaji pukul setengah satu. Dan makan malam sekitar pukul setengah tujuh sebelum isya berkumandang.
Memang, ya, katanya sumber penyakit datang itu pertama datang dari perut. Makna lainnya dari makanan yang kita asup. Kalau makan telat, ditambah saat lambung kosong malah diisi oleh yang pedas dan berminyak, maka jangan heran kalau suatu hari nanti lambung itu protes ke tubuh, ke Allah, akhirnya kita sakit.
Suami sering saya suguhi makanan pedas dan berminyak. 😤 Maafkan daku, Sayang. Terkadang, beliau makan banyak kedua makanan tersebut di saat perutnya kosong. Akhirnya, muncul reaksi demam tinggi sebagai tanda komplainnya lambung. Sorry.
Sakit kemarin jadi refleksi bagi kami terutama saya agar lebih memperhatikan asupan makanan dan memperhatikan kerja organ tubuh terutama lambung. Mereka bukan robot, ya, toh. Mereka organ titipan Ilahi yang punya daya kerja sendiri. Kalau daya kerjanya tidak digunakan sesuai porsi dan fungsinya, ya, macam saya dan suami lah efeknya.
Baik lah, Guys. Segala sakit dan musibah pasti mengandung hikmah bagi kita. Doakan kami selalu, ya. Agar sehat wal afiat selalu. Begitu pun dengan kalian yang mendoakan semoga hal yg sama kalian bisa dapatkan juga. Aamiin.
Sekian kisahnya. Saya akhiri dengan salam. Assalaamualaykum!!!

Share:

Thursday, November 15, 2018

Rumah Mertua Vs Mengontrak Sendiri




Teman-teman, siapa di sini yang sudah menyandang sebagai istri atau suami? Acungkan tangannya! Apakah kalian salah satu pasangan yang masih tinggal di rumah mertua? Atau sudah mandiri dengan mengontrak sendiri? 

Teman, saya enam bulan di rumah mertua dan sudah dua bulan mengontrak sendiri. Ada banyak keseruan di antara keduanya. Saya kupas satu-satu ya kelebihan dan kekurangan tinggal di kedua tempat tersebut.

Yuk, kita mulai!

Tinggal di Rumah Mertua

Tidak ada yang salah kalau sepasang suami istri yang baru saja menikah untuk tinggal di rumah mertua. Pernikahan butuh proses bukan? Karena di luar sana banyak lelaki yang  belum punya rumah sendiri memutuskan untuk menikah. Mereka yakin akan janji Allah SWT dalam Alquran bahwa siapapun yang menikah akan Allah mampukan.

Tinggal di rumah mertua, apalagi mertua dan jajarannya sangat baik tentu adalah sebuah anugerah terindah. Rezeki tak kasat mata dari Allah. Walau itu anugerah kalau lama-lama bisa jadi malapetaka bagi pasangan jika tidak punya ilmu dalam menghadapi kehidupan di rumah mertua. Perlu ilmu? Tentu. Hidup serumah dengan orangtua suami atau istri (terlebih di rumah suami) kita dilatih untuk hidup berdampingan dengan orangtua suami. Suami mengajarkan banyak hal selama enam bulan tinggal bersama mertua di rumah. Seperti; pertama, perihal makanan kita tidak bisa makan sendiri-sendiri. Saat beli makanan dari luar tentu harus membeli dua porsi untuk dibagi dua. Orangtua di rumah, sih, tidak meminta tapi karena kita hidup serumah dengan mereka maka harus dipikirkan. Kedua, saat bepergian kita tidak bisa pergi lama-lama apalagi sampai larut malam. Kasihan orangtua di rumah menunggui kita sampai. Ketiga, saat ada konflik antara suami dan istri, marah itu tidak bisa keras-keras karena malu kalau terdengar orangtua, hihi. Orangtua akan selalu mencium konflik tersebut saat bertatap wajah dengan salah satu dari kita. Muka pasangan yang sedang konflik kadang kurang segar, kurang bahagia, dan kurang ceria. Orangtua mudah sekali menebak bahwa sesuatu sedang terjadi. Duh, sungguh malu! Keempat, saat masak harus berbagi untuk yang di bawah. Makanan harus tertata rapi. Ruangan juga harus dirawat setiap hari 🤣 karena mertua ternyata lebih rajin dari kita. Malu jika ruangan yang kita pakai malah lebih kotor dari ruangan yang dipakai mertua. Hmmm, apalagi, ya? Dikarenakan saya belum punya bayi, jadi mungkin itu yang saya rasakan selama di rumah mertua. Bisa disebut sebagai sesuatu yang kurang nyamannya, he. 

Nah, sekarang kita kupas dari segi enaknya. Uh! Tidak sabar, deh! Check it out, yo! 

Enaknya tinggal di rumah mertua saat saya mengalami kehamilan di trisemester awal (sekarang sudah tri semester ke tiga). Mabuk berkepanjangan setiap hari setiap waktu membawa saya dalam kondisi tubuh yang sangat lemah. Tidak mampu memasak untuk suami, apalagi membekali suami dengan makanan untuk makan siangnya. Sungguh tak mampu! Pada saat itu peran mertua (terutama Mamah mertua) begitu sangat dibutuhkan. Mamah sementara 'mengurus' suami. Beliau yang menyiapkan bekal suami kerja dan selalu menyediakan makanan serta cemilan enak untuk saya. ماشاءالله Mamah!

Walau beliau sudah cukup berumur, kondisi tubuhnya alhamdulilah selalu bugar dan jagjag , ke sana ke mari tanpa lelah. Naik turun tangga mengantarkan makanan untuk saya. Dan selalu penuh perhatian walau bukan hanya saya penghuni rumah di situ. Sungguh luar biasaaaa! Mudah-mudahan Allah membalas semua kebaikan Mamah mertua saya. Aamiin.

Hal enak lainnya adalah saya bisa mengambil makanan apa saja di warung jika saya mau. Tapi sayangnya saya tidak pernah melakukannya pada saat mual muntah itu. Hanya beberapa kali saat akhir-akhir akan meninggalkan rumah Mamah. Hehe. Itupun melalu tangan suami. Malu juga kalau sendiri. Hehehe.

Lanjut.

Mengontrak Sendiri

Mengontrak sendiri pun banyak serba serbinya, Bloggy! Kita bahas yang kurang menyenangkannya, ya.

Hal yang kurang menyenangkannya mengontrak sendiri itu tidak ada, sih. Semuanya seruuu. Hihi. Paling pekerjaan jadi banyak. Tapi bisa disiasati berbagi tugas dengan suami. Mengepel ruang jualan suami. Mengepel dapur, kamar, dan teras, istri. Memasak, ya, istri. Mencuci pakaian besar-besar macam celana levis dan seprei, suami atau laundry. 🤭🤭🤭😝


Hal yang menyenangkannya banyak!!! Bisa sesuka hati mau memasak dengan versi kita, bisa beres-beres kalau sudah mau, bisa masak kalau sudah lapar. Pokoknya bisa segalanya, deh. Paling utamanya adalah tidak bisa dan tidak mau berlama-lama marahan dengan suami, berat! 🤣 Kalau lama-lama marahan dalam satu rumah, horooor betuuul! Mau berbicara sama tembok gitu? Oleh karena itu setiap kali saya marah atau bahasa kerennya ngambek, merajuk, manja, sama suami, paling lama lima menit 😝 karena kalau lama-lama saya jadi es diam terus dengan muka dilipat. Kurang enak! Biasanya kalau marah dan bisa normal lagi saya coba untuk berbicara atau menyapa suami dengan hati yang ikhlas, setelah itu rasa marahnya hilang entah ke mana. 

Selain mengontrak sendiri setelah menikah itu melatih kita untuk mandiri dan menyelesaikan masalah sendiri, toh itu juga adalah tuntunan agama. Fatimah ra dan Ali bin Abi Thalib saja segera membeli rumah sesaat setelah menikah. Walau hidup dalam kekurangan mereka belajar banyak dari hidup berumah tangga secara mandiri. Adapun tinggal dengan mertua, tidak ada masalah selagi suami masih berjuang untuk mengumpulkan pundi-pundi mengontrak atau membeli rumah. Asalkan dinikmati dan dimiliki ilmu berhadapan dengan mertuanya.

Di manapun kamu sekarang, bismillah, nikmati dengan sepenuh hati, ya. 
Share:

Tuesday, November 13, 2018

Apa yang Allah Suka?



Bismillah

Setelah salat asar tadi, saya termenung beberapa saat. Merenungi salat saya yang rasanya sangat biasa saja tanpa ruh. Merenungi kemenangan teman saya lolos tes CPNS Jatim. Merenungi kesuksesan teman saya mampu menaklukan dunia perkuliahan. Merenungi kelahiran anak saya beberapa bulan ke depan. Merenungi kisah Qabil & Habil yang saya baca di buku cerita anak-anak. Kira-kira, apa yang Allah inginkan dan sukai dari hamba-Nya?

Saya merenung untuk beberapa saat. Kemudian saya dapatkan jawabannya.

Allah menerima qurban Habil karena dia mengurbankan dombanya yang paling baik, paling gemuk, yang belum digunakan membajak, dan dipekerjakan. Sedangkan Allah tidak menerima qurbannya Qabil karena dia mempersembahkan sayuran yang jelek, biasa saja, dan bukan yang terbaik.

Teman saya -qodarullah- lolos passing grade ujian CPNS di Jatim karena sebelum tes dia rajin latihan soal. Dia juga mengikuti tes ini yang kedua kalinya. Kemudian dia juga mumpuni dalam penguasaan materi bahasa Jepang. 

Teman saya sukses menaklukan dunia pendidikan yang tidak mudah, karena dia punya tekad yang teguh, selalu bersungguh-sungguh, dan yakin akan pertolongan Allah. 

Dan tiga bulan nanti -insyaAllah- saya akan melahirkan. Saya berharap melahirkan normal. Tapi, jika memetik hikmah dari kejadian-kejadian di atas yang sudah disebutkan, suatu harapan atau impian itu takan tercapai jika usaha dari diri kita sendiri belum maksimal. Allah cenderung lebih suka suatu proses yang kontinu, terus menerus, konsisten, walau kita melakukan hal kecil. Contohnya teman saya, dia kontinu terus menerus berlatih soal sebelum diadakannya tes. Teman saya satu lagi, kontinu dan terus menerus bersungguh-sungguh dan membulatkan selalu tekadnya. Habil terus menerus kontinu merawat hewannya dengan baik sehingga dipilih hewan terbaik untuk Rabb-Nya. Dan saya berharap lahiran normal tapi hal kontinu dan terus menerus tidak ada yang saya lakukan, apakah ini bisa diloloskan oleh Allah SWT? Tentu jika ditilik secara logika itu tidak mungkin sebab tadi itu, Allah suka mengabulkan keinginan seseorang yang telah mengalami proses yang terus menerus dalam menggapai impian kecilnya itu. Jika saya berharap lahiran normal tentu hal yang harus saya lakukan adalah merutinkan melakukan sesuatu agar proses tersebut benar-benar bisa saya peroleh. 

Segar di telinga kita apabila orang berkata, "Oh, wajar dia lulus sebab dia rajin latihan soal." 

Atau, "Dia sudah mendapatkan gelarnya sebab dia selalu bersungguh-sungguh dan punya tekad yang kuat dalam menjalaninya."

Lalu, "Tentu Allah menerima qurbannya Habil sebab apa yang dia qurbankan sangat bagus."

Kemudian selain memikirkan lahiran nanti saya pun membandingkan salat-salat saya dan semua ibadah yang saya lakukan selama ini dengan para salafus soleh (mantul sekali). Ya Allah betapa betapa betapa jauuuuuhnyaaaa sampai saya terpelanting saking kejauhan.

Para salafus soleh saat menghadap Allah SWT senantiasa berbadan bersih baik dari hadas besar maupun kecil, dari kebencian maupun kedengkian, dari kemalasan maupun kekosongan. ماشاءاالله

Para salafus soleh saat menghadap Allah SWT di sepertiga malam senantiasa memakai baju barunya. Harum, rapi, bersih, mewangi. Sungguh, siapa pun akan betah melaksanakan ibadah berlama-lama jika kita sendiri mendesain suasana beribadah dengan begitu nyaman dan aman. 

Beribadah menjadi nikmat, berbobot, berruh, dan penuh peresapan. Berbeda dengan diri ini yang dari pagi saja belum mandi dikarenakan kondisi udara yang dingin, baju masih menggunakan baju bekas tidur, celanan legging yang dipakai salat adalah celana yang dipakai berhari-hari entah masih bersih entah sudah terciprati najis -astagfirullah- mukena pakai yang sudah lama tidak dicuci. Ya Allah, ya Allah, apakah 'amalan' macam ini yang hanya bisa kupersembahkan pada Rabb pemberi segala? Tak ubahnya amalan yang kulakukan (salatku) bak qurban Qabiel, Allah sama sekali tak melihatnya. Ya Allah, ya Allah. Apakah ibadah semacam ini yang menjadi andalanku meminta kemudahan kepada Allah saat kelahiran anak pertama nanti? Apakah dengan amalan macam ini aku berharap Allah mengabulkan semua, memudahkan semua, dan mewujudkan semua keinginan dan harapanku? Apakah dengan amalan begini???

Astagfirullah

Rasanya aku ingin sekali menangis. Ku telah menghilangkan momen indah kebersamaan dengan Rabb-ku selama ini. 

Sungguh aku tak mau berlarut-larut dalam keadaan seperti ini. Aku harus mulai berbenah dan belajar jadi lebih baik. Tak lagi menghabiskan waktu dengan bermain gadget. Tak lagi menghabiskan waktu dengan diam dengan kedunguan. 

Astagfirullah

Kucampakan waktu dalam kelalaian. Kucampakan waktu dalam kesia-siaan. Aku tak mau merana di dunia apalagi di akhirat. Aku harus memulai merubah diriku sendiri.

Izinkan aku merubah diri dan kebiasaanku, Rabb!!!

امين
Share:

Ini Tentang Ponsel Pintarmu Itu



Ini tentang ponsel pintarmu. Kau bisa melakukan apa saja dengan menggunakan ponsel itu. Membaca koran, menonton televisi, berbelanja, narsis, menghujat, mengkomentari, dll; sungguh kau bisa melakukan segalanya hanya lewat jemari lentikmu. 

Ini tentang ponsel pintarmu. Bahkan bayi kecil dan anakmu yang masih belum banyak mengenal nama-nama benda di dunia ini, sudah kau kenalkan ponsel pintarmu. Dia tampak nyaman bermain dengan ponselmu. Tanpa tertawa, tanpa berkedip menatap layar ponsel yang menampilkan beragam warna dan suara menarik. Kau bahagia melihat dia diam dan asyik dengan ponselmu. Kau rasa salah satunya jalan tepat memang memberikannya ponsel pintarmu.

Ini tentang ponsel pintarmu. Anak-anak merengek kepadamu meminta izin ingin meminjam ponsel untuk main instagram, untuk membuat video boomerang, untuk memotret diri dengan beragam fitur bingkai. Kau memberikannya. Dia pun terus menerus merengek setiap hari meminta izinmu karena kecanduan bermain medsos. Bisa melihat segalanya di situ. Foto-foto orang cantik, berpakaian modis, tempat-tempat menarik, tren-tren terkini, bahkan satu hal yang tak bisa dia hindari adalah dia bisa saja melihat foto atau video pornografi dan pornoaksi tanpa sepengatahuanmu. Mereka mau tak mau akan dihadapkan pada kondisi itu; melihat gambar-gambar yang tidak sesuai dengan umur mereka, karena ponsel pintarmu. Ya, karena ponsel pintarmu.

Dear Bloggy

Ku meresapi tiap detik kehidupan dengan segala pernak-pernik kejadiannya yang kualami. Aku tidak dapat berkata-kata. Aku hanya ingin menangis dan marah. Tapi aku harus marah pada siapa? Saat aku melihat anak kecil sudah melihat adegan yang bukan untuk umurnya. Saat aku melihat remaja-remaja kecanduan pacaran dan sex bebas akibat mudahnya akses pornoaksi dan pornografi ditemukan. Saat aku melihat anak-anak SD sudah berpacaran dengan gaya pacaran suami istri. Aku harus menyalahkan siapa? Marah pada siapa? Kusungguh tak berharap semua ini terjadi. Sungguh miris melihat semua yang ada kini.

Anak muda mudi -entah dia santri atau bukan- mereka pacaran. Mereka seakan tak memiliki komitmen penuh dalam hidup ini. Sehingga apa yang menjadi tren saat itu mereka ikuti tanpa me-rechek kembali apakah tren itu disukai Allah dan Rasul-Nya atau tidak. Bagaimana mereka mau me-rechek apakah tren itu disukai Allah dan Rasul-Nya bahkan mereka sendiri pun mungkin tidak terlalu kenal Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada rasa takut dalam dirinya. Tidak ada rasa diawasi dalam setiap gerak geriknya. Ini mungkin salah satu akar penyebab pergaulan remaja sekarang begitu memprihatinkan. Mereka jauh dari pribadi yg mengenal Allah dan Rasul-Nya. Andai mereka mengenalnya maka saya yakin pergaulan bebas yang marak ini tidak akan semiris yang saya lihat sekarang. 

Orang tua, sekolah, dan lingkungan adalah tiga variabel penting untuk membentuk karakter anak. Jika di salah satu lost dari pendidikan agama maka akan berakhir buruk bagi anaknya.

Pendidikan agama menjadi pondasi utama bagi seorang anak untuk menjalani hidupnya dengan benar. Sebarapa kokoh pondasi ini tentu semuanya ditentukan oleh peran keluarga di rumah. Semakin dia kokoh menanamkan rasa takut kepada Allah maka setiap gerak-gerik anak tersebut akan terjaga baik kala sendiri mau pun saat di keramaian. Namun, jika pendidikan agama di rumah tidak kokoh anak akan goyah, mereka tidak punya pendirian, tidak punya komitmen. Saat diajak bergaul ke sana ke mari oleh teman, dia ikut. Ada tren begini begitu dia ikut. Sungguh, komitmen itu perlu dimiliki oleh setiap anak agar dia percaya diri melangkah dalam jalan yang benar tanpa harus berbalik arah dan takut akan dicemooh oleh temannya karena memiliki pilihan yang berbeda dari pada umumnya.

Kekokohan pondasi iman ini tidak serta merta bisa ditumbuhkan. Semuanya perlu proses dan pembiasaan. Kebiasaan tersebut tentu bisa kita mulai dengan membiasakan anak mendengar keteguhan-keteguhan iman para sahabat Rasulullah yang rela mati demi menjaga keimanannya. Mereka rela melakukan apapun demi Allah tetap di hatinya. Dengan terus menerus dicekoki keteguhan iman para sahabat ini, maka anak akan terasah jiwanya untuk memiliki hal yang sama seperti para sahabat Rasul yang ia dengar dari kisah tersebut.

Sungguh, memiliki buah hati adalah impian semua pasangan suami istri di dunia. Tapi, kita sebagai calon orangtuanya harus benar-benar serius dalam mempersiapkan diri untuk menjadi orangtuanya. Siap dalam segi ilmu dan kesabaran. Anak adalah amanah yg harus dijaga. Jika ia soleh kelak dia akan menjadi investasi dunia dan akhirat kita. Jika kita tidak sekuat tenaga belajar jadi orangtua soleh maka anak kita akan menjadi ujian di dunia maupun di akhirat. 

Menjadi orangtua zaman sekarang tidak hanya butuh kemauan untuk belajar tetapi juga butuh keimanan yang besar agar tidak tergerus mengikuti tren zaman.

Ku berharap generasi yang lebih baik akan segera hadir lewat rahim-rahim solehah di bumi Indonesia ini. Anak-anak yg membawa bobot pada bumi dengan kalimat laa ilaa ha illallah.
Share:

Thursday, November 1, 2018

Sabtu



Kala itu, saya masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Rambut hitam saya terurai panjang sampai ke pantat. Kemeja putih dan rok merah yang saya kenakan siang itu benar-benar membuat saya bangga menjadi seorang anak dengan menyandang status "siswa" SD Alaswangi 03.

Bu Amsah namanya. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia yang memiliki sifat keibuan dan penuh kelembutan. Kami menghormati kewibaannya.

Hari Kamis waktunya belajar bahasa! Semua anak diberikan tugas menulis nama-nama hari di kertas kemudian yang sudah selesai bisa langsung dipeunteun ke Ibu guru.

Waktu mengerjakan habis. Semua anak berebut ingin diperiksa terlebih dahulu oleh si Ibu agar bisa istirahat dan jajan duluan. Hasilnya? Semua anak salah kecuali kertas nama-nama hari miliki seorang gadis kecil berambut hitam lebat yang terurai ke pantat itu. 

Semua wajah keheranan dan bertanya-tanya. 
"Apa yang salah dari hasil kerjaku, Bu? Rasanya betul semua. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Saptu, Minggu. Kok, disalahin, Bu?"

Riuh rendah kelas yang ruangannya dibagi dua dengan kakak kelas saat Ibu guru menilai satu persatu buku muridnya. Ibu guru belum menjawab. Sampai pada akhirnya dia pun menjawab sebab penulisan Saptu bukan menggunakan "pe" tapi "be" Sabtu. Dan hanya satu anak saja yang benar menuliskannya.

Mendengar penjelasan tersebut semua anak melirik ke arah anak perempuan berambut panjang. Mereka bingung, "Kok, bisa? Penulisan hari Saptu harus menggunakan "b" bukan "p"? Sedangkan yang mereka dengar di rumah, di sekolah, di tempat main adalah Saptu. Sungguh."

Pasalnya, ini bukan satu orang saja yang merasa yakin akan kebenaran penulisan Saptu tapi 22 anak kelas tiga meyakininya.

Melihat kepelikan dan kebingungan anak-anak waktu bel istirahat ternyata penyelamat suasana. Semua riuh berlarian. Kemudian lupa pada semua permasalahan. Tapi tidak untuk si gadis perempuan kecil berambut panjang hitam lebat itu. Hingga kini dia berusia dua puluh tujuh tahun pun masih diingat kenangan lucu itu. Ah, lucunya.

Lalu, dari mana si gadis itu mengetahuinya?

Mudah saja. Ternyata dia di rumah memiliki kebiasaan membaca dan menuliskan kembali informasi berjalan yang ada di televisi saat ada acara berita berlangsung. Kemampuan membaca yang sudah dia kuasai semenjak dia belum masuk sekolah membawa pada sebuah kehausan akan membaca dan menulis. Salah satu efeknya ya tentu penemuan "barang penting" pengejaan kata yang benar. Kata Saptu bukan tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia melainkan dia adalah sebutan hari yang berasal dari Bahasa Sunda. 

Lingkungan teman-teman gadis kecil itu memang dominan menggunakan Bahasa Sunda. Dan sayangnya mereka tidak menemukan informasi terkait ejaan yang benar dari nama hari Sabtu ini. Mungkin juga beberapa kepala menganggapnya itu hal sepele sekali. Hanya beda satu huruf kenapa dipermasalahkan dan diperdulikan? 😅 Oleh karenanya mereka acuh tak acuh dengan masalah Saptu dan Sabtu. 

Sungguh lucu kenangan masa kecil yang satu ini. Kebiasaan membaca informasi berjalan di televisi nyatanya membawa berkah di sekolah. Nilai seratus pun didapat. 

Jika ditilik dan sangkut pautkan dengan agama Islam tentu kita akan tercengang. Bahwa wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW pertama kali di gua Hira yakni tentang membaca, iqra! bunyinya. Dengan membaca ternyata dunia tersingkap. Kegelapan terbirit-birit. Kebodohan tunggang langgang. Kesepian terhempas ke udara. Dan peradaban di telapak tangan. Sungguh besar pengaruh membaca dalam memberantas kebodohan dan menebar cahaya di dunia. Membaca memberikan input yang banyak kepada diri pribadi, lingkungan, dan sekitar. Terlebih membaca bacaan yang syari dan berfaedah. Tentu tidak hanya berefek positif tapi juga bernilai pahala asal diniatkan karena Allah SWT.

Tentu banyak sekali para tokoh Islam yang besar dengan membaca. Mereka mewakafkan waktu untuk membaca kemudian berbuah hasil karya gemilang sampai mendunia. Jangan heran jika kita harus mengakui bahwa banyak sekali ulama zaman salaf yang memiliki karya luar biasa yang masih dapat dinikmati karyanya hingga kini sebab mereka mengorbankan waktu dan jiwanya untuk membaca berbelas-belas jam dalam sehari. سبحن الله

Betapa dahsyatnya firman Allah yang pertama itu. Ternyata membaca dapat menyingkap tabir yang tersembunyi. Jangan sampai kita jadi kaum primitif di tengah zaman yang bergelora oleh keilmuan dan pengetahuan karena ketidakmauan kita membaca. Tidak, tidak, tidak. Jangan sampai kita jadi salah satunya. Mulai sekarang targetkan dalam satu minggu, satu bulan, satu tahun, berapa buku yang harus kamu lahap bulat-bulat dan realisasikan dengan karyamu agar dia bermanfaat bagi orang banyak.

Membaca bukan bakat tapi kebiasaan. Mata yang terbiasa melihat buku di rumah akan memunculkan hasrat membaca. Mata yang terbiasa melihat orang terdekat membaca akan terpacu untuk membaca. Dan janin yang dikandung oleh seorang ibu bookworm kelak akan menjadi penerus sejati seorang bookworm. 

Kita hidup dalam karakter yang terbentuk dari kebiasaan kita. Kebiasaan yang baik akan membentuk karakter baik. Tentu kebiasaan itu bisa kita tentukan dan atur di lingkungan keluarga, rumah, dan sekolah. Tempat yang kita temui sehari-hari.

Well, Guys! Just now, make a good habit for build your character. Especially a habit of reading!!! 

📖🔍🔍🔍
Share:

Money



Kala pagi sudah tersingkap, deru motor menyala, mesin mobil mengepul, gerobak-gerobak bergerak. Semua memulai penghidupan. Pagi telah tersingkap maka rezeki siap terjemput.

Ya, begitu. Rutinitas yang kudengar setiap pagi. Orang-orang terbangun dan mulai bergerak menjemput rezekinya di hari yang baru. Ada yang menjemput sejak subuh ada pula yang memulainya di waktu siang bolong sampai malam yang buta.

Perut yang kosong sudah terisi demi menjemput rezeki. Kantong uang yang sepi kelak jam demi jam akan terisi oleh gelundungan receh dan uang kertas yang kucel. 

Badan yang sudah harum tersiram sabun kelak akan meleleh kemudian luruh tergantikan peluh keringat yang menyengat. Tak mengapa semua demi keberlangsungan hidup. 

Jemari-jemari kekar, terbakar, legam, kadang-kadang kutemui menjulurkan uang recehan yang masih "hangat" itu untuk menebus pulsa yang kukirimkan. 

Ya, serpihan-serpihan receh dan uang kertas lusuh yang dicari sedari subuh tadi nyatanya harus kembali ditukar dengan keperluan hidup yang lain. Salah satunya adalah pulsa. 

Kadang kutemui uangnya receh lima ratusan. Kadang juga kutemui uangnya hangat tersebab si uang di simpan di dekat kompor (tebak pedagang apaaa). 

Pernah suatu kali kuberhadapan dengan seorang waria. Dia mengamen dengan gaya yang amat aneh dan menurutku cenderung menyeramkan. Wajahnya dipoles bedak tebal yang berujung bertolak belakang dengan kulit lehernya. Gincunya merona mungkin cocok disebut berlebihan. Alisnya seperti polisi tidur di jalanan. Belum kerudung sunami yang dikenakannya kebesaran. Melihatnya saja kusudah terkejut bukan kepalang. Keterkejutanku bertambah setelah kumelihat sesuatu yang dia bawa di depannya. Boneka! yang dibuat menempel di dadanya. Mungkin agar terkesan lucu. Atau agar orang mengira dia membawa anak? Tapi apa yang saya lihat? Sungguh saat itu saya sedang tidak fokus jadi melihat dia dengan dandanan dan kostum ngeri seperti itu membuat saya mengira bahwa boneka itu manusia. Lalu itu kepala siapa yang pakai kerudung?!! Benak saya kebingungan. Setelah beberapa waktu menatap dia yang tengah berjoget di depan dengan alunan musik dangdut saya baru sadar dengan apa yang saya lihat. Keterkejutan itu berhasil membuat saya menolak memberikan uang kepadanya. Berharap dia segera pergi dan meninggalkan saya. Tapi ... saya makin merinding dan hampir berteriak karena ketakutan saat dia berjalan menghampiri. Mendekat ke saya. Dan bertanya, "Voucher Ax*s berapaan, Teh?" 

Setelah menjelaskan akhirnya waria itu fix membeli satu voucher Ax*s satu gigabyte. Cukup lama dia menyerahkan uangnya sebab dia harus mengumpulkan, mengorek, menghitung perlahan-lahan uang receh yang dia punya untuk membayar apa yang dia beli. Saya yakin itu uang hasil ngamen selama ini. Benak saya berpikir keras sambil mengetik SMS mengirimkan kode voucher ke teman dia bernama Vera. 

Saya hanya berpikir begini, uang yang receh demi receh terkumpul, dari energi demi energi yang terurai, lelah demi lelah yang terkumpul, uang itu pada akhirnya berpindah tangan pula kepada orang lain. Dan hasil yang ia peroleh adalah sebuah kenikmatan dapat menikmati kuota hasil jerih payahnya sendiri. 

Semua begitu. 

Receh yang bertaburan serta uang kertas yang lusuh yang terkumpul dari tenaga yang terurai ke udara, lelah yang terhempas, dan perut yang awalnya terisi kemudian kosong itu pada akhirnya akan berpindah lagi. Ke tangan demi tangan. Hasilnya? Lelah itu menjadi nikmat karena buah dari usaha sendiri sedari subuh. 

Uang uang yang ditimbun takan pernah memberikan kebahagiaan. Sebab sejatinya uang itu akan terus berpindah tangan. Tidak usah takut kehilangan uang yang dicari dengan sekuat tenaga sedari subuh itu, sebab dia sejatinya akan terus berpindah tangan. Dan akan selalu begitu. Biar lah dia berpindah dengan bijak sebijak mentari yang menyelam kala senja datang.
Share: