Friday, July 12, 2019

Rahasia Memotong Jagung

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاه والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم
Teman, bagi kita sayuran satu ini sudah mahsyur
di telinga. Ya, jagung. Salah satu sayuran ciptaan الله تبارك وتعالى yang bisa hidup di negara beriklim
tropis atau bukan tropis.
Salah satu sayuran yang memiliki nama latin oryza sativa ini memang banyak disukai orang. Selain rasanya yang enak, juga kandungan gizi di dalamnya yang banyak. Kalau mau lengkap, cek google aja, deh, yaaa.
Saya suka jagung. Mau dia dibakar, direbus, dikukus, ditambahi keju, susu, parutan kelapa, atau bahkan disayur, saya tetap sukaaa. Fuh. One hundred percent! Saking sukanya, hehe.
Selain suka banget sama jagung, saya juga pemakan segala (elaaah istilahnya sadis, hehe), kecuali tempe, sih, hahaha. Dan Allah jodohkan dengan lelaki yang makannya pilah pilih. Hmmm. Ayam? Bosen. Ikan asin? Sakit tenggorokan. Sambel? Aku maag. Sayur? Airnya doang. Ikan? BIG NO WAY EXCEPT it is has a GOOD TASTE & NO BAD SMELL.

Sigh deeply. Hffft.
Akhirnya, saya berbagi informasi tentang cara makan suami ke Mamak di kampung. Wah, Mamak memang super duper keren, sih, yaaa. Aku diberi saran banyak oleh beliau. Coba, kasih telur dicampur ini, dicampur itu, dll.
Ya, aku coba pada detik itu juga. Telur dicampur jagung!
ماشاء الله
Bener aja. Beliau suka dan makan dengan lahap. Jadi lah telur+jagung jadi menu andalan saya. Hmmm. Karena jadi menu andalan, otomatis saya sering berhadapan sama jagung+telur, Sob! Saya jadi teringat pesan sederhana tapi endeuuus dari teman saya, Bu Pipit, tentang tips memotong jagung agar potongannya jadi banyak.

Kalian Emak²? Pasti matanya udah berkaca² hehe.
Nah, menurut beliau tipsnya adalah agar kita mendapatkan hasil banyak dari jagung yang diiris², maka pertama kali mengirisnya tipis lah dulu. Tentu daging bagian dalamnya masih tebal toh? Hmmm. Daging bagian dalam yang masih tebal itu kita iris tipis lagi dan lagi. Sampai si daging benar² habis, hihi.
Wah, bener jadi banyak itu mah. Bisa hemat kita, Moms! Wkwk. Berani coba? Ayo kita cobaaa!
Share:

KULWAP Membangun Peradaban di Rumah Bersama Ustaz Harry Santosa Part 1

الحمد لله رب العالمين والصلاه والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم
Saat menulis ini, Zidan sedang tidur dan suami Jumatan. Tinggal lah Mamak sendiri menjaga rumah. Hehe. Mau masak belum semangat karena masih kepikiran sesuatu. Kepikiran mau mengawetkan ilmu di sini bekas kulwap kemarin.
Jadi, aku gabung di WAG (WhatsApp Grup) Ummahat Mengaji. Di sana kumpulan Emak-emak yang rindu dan haus ilmu, Gaes. Buktinya, ada info challenge, diembat. Ada info kulwap diembat. Beuh, pokoknya. Emak-emak militan masalah ilmu. Keren benerrr.
Nah, mengambil istilah salah satu member di WAG tersebut yang mengatakan bahwa setiap perkataannya adalah daging alias bermakna semua, maka saya tidak ingin membiarkan ilmu tersebut tercecer di WAG saja atau di "Pesan Berbintang" yang kalau ganti WA baru pasti bakalan hilang.
Saya abadikan di sini, ya, Mak. Buat kita kelak. Buat siapa saja silahkan. Asal harus bertanggung jawab ya menyatakan sumbernya. Siappp? OK kita mulai.
Jadi, Kulwap tempo hari itu dimoderatori oleh seorang ibu dua anak yang aktif di Kuttab (tahukan Kuttab?), he. Namanya Mbak Lelly (Ig @lelly.ha). Beliau pandai sekali membawa Kulwap malam itu menjadi kulwap yang hidup dan bergairah. Baru kali itu sih saya ikutin Kulwap dan ketagihan. Hehe.
OK. Sebagai prolog, kami diberikan artikel tentang Peradaban di Rumah. Apa itu peradaban? Berasal dari manakah kata peradaban? Bagaimana agar bisa menciptakan Peradaban di Rumah? dll yang dengan modal prolog itu, moderator membuka untuk penanya. Dan wow penanya dapat hadiah buku Ustadz tersebut! Nyesel gak nanya. Hehe.
Baik, langsung saja ya aku share prolognya di sini. Tanpa aku tambah dan kurangi.
Selamat membaca بسم الله الرحمن الرحيم
*Membangun Peradaban dari Rumah*
Rumah adalah satuan kelompok terkecil di dalam masyarakat. Jika rumah rumah melahirkan orang orang baik  maka secara kolektif menjadi baiklah sebuah peradaban. Jika rumah rumah melahirkan orang orang buruk, maka menjadi buruklah peradaban.
Sebagaimana pendapat seorang Ulama, *"kaifa takuunu yuwalla ilaikum"* ,
Artinya, seperti apa kondisi kalian, maka seperti itulah masalah kalian atau pemimpin kalian.

Jadi masalah atau pemimpin suatu bangsa ada di sekitar karakter atau akhlak kolektifnya. Maka apabila masalah atau pemimpin suatu bangsa atau suatu peradaban buruk, itu bukan diakibatkan di luar sana tapi diakibatkan rumah rumah kita gagal melahirkan manusia yang beradab.
Karenanya, rumah harus menjadi *the center of excellent*, menjadi pusat kehebatan dalam melahirkan orang orang berkarakter atau beradab (memiliki adab) terbaik, dengan peran peran peradaban terbaik dengan karya karya peradaban terbaik sehingga menjadi peradaban yang cemerlang, menebar rahmat bagi semesta.
*Adab dan Peradaban*
Peradaban berasal dari kata Adab. Maka hebatnya peradaban bukan diukur dari dari banyaknya orang pandai dan bergelar tinggi, tetapi diukur dan diukir dari lahirnya banyak peran peran peradaban dan karya karya peradaban dengan semulia mulia adab.
Kata kuncinya 2 yaitu peran peradaban dan adab. Maka agar mencapai peradaban seperri di atas diperlukan sebuah model pendidikan peradaban, yang membawa dan mengantarkan generasi peradaban kepada dua hal tadi yaitu peran peradaban yang beradab.
Tahun 1977 pernah ada konferensi pendidikan Islam di Mekah. Dalam konferensi itu disimpulkan bahwa kwmunduran peradaban Islam hari ini bukan disebabkan masalah ekonomi, sumberdaya alam dll tetapi disebabkan oleh *the lost of adab* atau hilangnya Adab. Kemudian setelah digali lebih jauh, penyebabnya adalah karena para orangtua masa kini umumnya meninggalkan pos mendidik anak anaknya di rumah.
*Rumah Garis Belakang yang Rapuh*
Ibarat Perang Uhud, semua usaha perjuangan dakwah hari ini banyak terkuras ke pusat kekuasaan, semua turun ke gelanggang politik, bukan tidak boleh, namun garis belakang yaitu rumah rumah kaum Muslimin luput dari penjagaan.
Akibatnya, seperti di Indonesia, kasus perceraian mencapai angka 50 keluarga per jam, belum kasus kekerasan di dalam rumah tangga baik verbal dan non verbal. Anak anak jika sudah disekolahkan di sekolah Islam atau di Boarding School kan seolah selesai pendidikannya, padahal kita semua tahu bahwa wellSchooled (tersekolahkan dengan baik) belum tentu wellEducated (terdidik dengan baik).
Rumah rumah kita diserbu tanpa ampun oleh pornografi, LGBT, Narkoba, Depresi, Kecanduan Game, Bully dll. Hari ini banyak anak anak gagal didik dikarenakan para orangtua hanya pandai menitipkan anak dan menekan anak.
*Lalu Bagaimana Pendidikan yang melahirkan Peran Peradaban dan Adab?*
Dalam Islam, istilah pendidikan mencakup 3 hal, yaitu Tarbiyah, Ta'dib dan Ta'lim. Ketiganya jika diterjemahkan bisa diartikan sebagai pendidikan. Namun jika dibreakdown, memiliki dimensi yang berbeda.
*Tarbiyah* berarti merawat, menumbuhkan, membangkitkan dstnya. Apa yang dirawat? Fitrah. Gurunya disebut Murobby. Fitrah tidak diajarkan atau dibentuk tetapi dibangkitkan dari dalam (inside out) karena fitrah sudah Allah instal dalam jiwa manusia, hanya memerlukan aktifasi karena ada di alam tak sadar. 
Tarbiyah ini kelak mengantarkan ananda dari fitrahnya kepada Peran Peradaban (Daurul Hadhoriyah)*

*Ta'dib* berarti memuliakan, mengadabkan, memartabatkan dstnya. Apa yang dimuliakan? Adab. Gurunya disebut Mu'adib. Adab adalah nilai nilai atau value yang diambil dari Kitabullah. Adab sering dimaknakan dengan etika, disiplin dll, padahal lebih dari itu, adab adalah perbuatan yang bermartabat, berderajat, mulia sesuai dengan konteks intelektualias, kondisi dsbnya. 
*Fitrah dan Adab ibarat benih dan buah*, Kitabullah adalah panduan atau juga pupuknya agar benih menjadi buah yang indah. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebut bahwa fitrah yang diinstal dalam diri manusia disebut fitrah alGharizah, sementara Kitabullah disebut Fitrah alMunazalah. Itu artinya bahwa Fitrah dan Kitabullah kompatibel, atau maknanya, apabila fitrah anak anak kita tumbuh paripurna maka ia akan mudah menerima Kitabullah sebagai panduannya.
*Ta'lim* berarti mengilmui atau mengajarkan Ilmu. Gurunya disebut Mu'alim. Ini jelas *outside in* atau pemberian pengetahuan atau keilmuan.Ta'lim akan mudah apabila fitrah tumbuh baik dan adab mulai terlihat. Karenanya ada istilah Adab sebelum Ilmu.
Tarbiyah, Ta'dib dan Ta'lim ini kewajiban orangtua, kecuali ta'lim apabila tidak memiliki ilmunya. Misalnya ananda ingin menjadi ahli hadits, secara keilmuwan orangtua tidak berlisensi atau tidak punya kemampuan dalam bidang ilmu hadits, maka boleh dioutsourcing ke Ulama Hadits. Namun membuat anak jatuh cinta dan beradab pada Rasulullah SAW dan para Sahabat radhiallahu anhum adalah kewajiban para orangtua.
*Peran Rumah dalam Mendidik untuk Melahirkan Peran Peradaban dan Adab*
Sepanjang sejarah, peran mendidik ada di rumah, lalu bergerak ke jama'ah atau komunitas. Mendidik berbeda dengan Menyekolahkan, karena mendidik meliputi aspek Tarbiyah, Ta'dib dan Ta'lim, yang ketiganya memerlukan peran Ayah dan Ibu, yang tak bisa didelegasikan kepada siapapun.
Ada 8 Fitrah yang harus ditumbuhkan sehingga melahirkan Peran dan Adab
1. *Fitrah Keimanan*, jika ditumbuhkan dengan sungguh sungguh sesuai tahapannya, maka akan melahirkan peran *change maker* alias peran penyeru kebenaran untuk perubahan. Makna perubahan adalah mengembalikan segala sesuatu kepada yang Allah ridhai. Ini adalah *Adab kepada Allah, RasulNya dan kaum Mukminin* sebagai rahmatan lil alamin
2. *Fitrah Bakat*, jika ditumbuhkan dengan sungguh sungguh sesuai tahapannya, maka akan melahirkan peran *solution maker* alias peran memberikan solusi untuk perubahan dalam rangka menolong agama Allah dengan memberikan karya solutif. Ini menjadi Adab pada Ummat dengan memberi sebesar manfaat atas solusi tsb
3. *Fitrah Belajar dan Bernalar*, jika ditumbuhkan dengan sungguh sungguh sesuai tahapannya, maka akan melahirkan peran *innovation maker* alias peran untuk senantiasa melakukan inovasi kepada solusi untuk perubahan. Ini menjadi Adab pada Ulama, Ilmu dan Alam.
4. *Fitrah Seksualitas*, jika ditumbuhkan dengan sungguh sungguh sesuai tahapannya, maka akan melahirkan peran *regeneration maker* alias peran mendidik generasi atau anak & keturunan untuk melanjutkan perjuangan perubahan di atas. Ini menjadi Adab pada Keluarga, Pasangan, Anak dan Keturunan.
Masih ada 4 peran lagi dari 8 aspek fitrah, insyaAllah kita bahas kemudian.
Demikian, diharapkan dengan dimulai dari tarbiyah yang baik, maka fitrah akan tumbuh indah menjadi aktifitas yang baik dan peran yang baik. Kemudian dilanjutkan dengan ta'dib yaitu panduan nilai nilai Kitabullah sehingga aktifitas dan peran atas fitrah menjadi beradab. Maka ilmu akan jauh lebih mudah diajarkan sehebat apapun.
Salam Pendidikan Peradaban dari Rumah
#fitrahbasededucation
Nah, sudah dibaca? Cukup panjang, ya. Gak masalah. Resapi saja, ya. Setelah itu kelas dimulai dengan diawali moderator mengundang pemateri ke grup. Setelah masuk, beliau menyapa kami kemudian moderator langsung mengajukan pertanyaan yang sebelumnya sudah tertampung.
Berikut Mamak tampilkan. Selamat membaca. 
Minta ke Allah dimampukan paham ya.

بسم لله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاه والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم
Maaf, sebelum ke tanya jawab, sang pemateri menanggapi prolog terlebih dahulu. Berikut petikannya.
Baik, semoga teman teman sudah membaca materi pengantar dari saya.

Intinya adalah bahwa peradaban akan tegak apabila pendidikan peradaban (tarbiyah hadhoriyah) mampu mengintegrasikan ke 4 elemen peradaban (manusia, tanah, waktu, sistem hidup) untuk mengantarkan generasi peradaban (jailul hadhoriyah) mencapai peran peradaban (daurul hadhoriyah) terbaik dengan semulia mulia adab.
Dan satu satunya tempat pendidikan peradaban terbaik adalah rumah, kemudian secara kolektif membangun jaringan komunitas rumah (jama'ah) sehingga tercapailah peradaban terbaik yang dimaksud.
Tentunya mensyaratkan peran KeayahBundaan yang sesuai fitrah, merdeka (independen) dan berani sebagai bagian dari Aqidah yang kuat.
Demikian ✅
Nah, baru ini pertanyaan. Check it out!!!
*Pertanyaan 1*
Nama : Carina
Asal : Medan
Pertanyaan: 
Bagaimana cara mengatur waktu untuk mendidik anak di rumah sedangkan saya adalah working mom? Ketika sudah sampai rumah, saya harus dihadapi dgn pekerjaan rumah dan barulah malamnya mempunyai waktu sedangkan saya sudah terlalu lelah dan anak-anak juga sudah mengantuk.

Jawaban beliau.
1⃣bunda Carina yang baik,
Memang kendala ummat Islam hari ini adalah sistem ekonomi yang menjebak, sehingga suami istri harus bekerja meninggalkan rumah. Suami Istri hasil sistem persekolahan, umumnya urban ke kota besar, dan jelas tanpa warisan yang memadai mereka akan tinggal jauh di pinggiran dan harus bekerja ke tengah kota. Parahnya berangkat sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur. Worklife yang seharusnya 1/8 dari waktu manusia, menghabiskan 5 hari dalam sepekan, sehingga kehidupan lainnya (7/8) seperti family life, social life, spiritual life, learning life, healrh life, aesthetic life, growth life ditumpuk di hari Sabtu dan Ahad. Akibatnya anak sdh menjadi yatim sebelum waktunya, kehidupan menjadi tak bahagia dan tak seimbang sehingga banyak terjadi perceraian, anak gagal didik dsbnya. 
Orangtua yang demikian, maka anaknya akan lebih banyak dititipkan lagi di sekolah, dan kabar buruknya adalah anak2 mereka akan menjalani kembali kehidupan seperti orangtuanya, karena mereka tak punya role model yang baik dalam mendidik dstnya. Ini yang disebut siklus kezhaliman yang terus menerus antar generasi.
Maka, jika kita menginginkan peradaban anak anak kita cemerlang di masa depan, maka siklus kezhaliman ini harus diputus dari sekarang. Ini harus menjadi keyakinannya, tapi tentu harus punya strategi yang matang.
Saran saya
1. Rancanglah kegiatan untuk Sabtu Ahad untuk menumbuhkan semua fitrah ananda
2. Eksekusi kegiatan bermakna sesuai rancangan pada weekend atau hari libur. Jangan egois ketika weekend. Banyak juga kegiatan weekend hanya jalan jalan mengentaskan stress orangtuanya bekerja bukan dirancang serius untuk menumbuhkan fitrah anak 
3. Manfaatkan teknologi informasi utk video call setiap saat dengan ananda, jadikan tempat curhat terbaik selama meninggalkan ananda. Bisa dischedule di waktu istirahat atau break
4. Jika sepasang suami istri bekerja, perlu dipersiapkan setahun sampai dua tahun ke depan agar, mencari nafkah lebih smart, yang waktunya lebih banyak utk keluarga namun penghasilannya lebih besar dan berkah 
5. Berkomunitaslah sehingga bisa saling bergantian merawat ananda dan tidak merasa sendiri mendidik anak. Sekolah atau tidak 
Sekolah, tidak mengurangi sedikitpun kewajiban mendidik fitrah dan adab ananda.

*Pertanyaan 2*
Nama: Litha
Asal: Jakarta
Pertanyaan: bagaimana cara untuk menguatkan prinsip dasar atau akar keluarga inti, saat berada di rumah saudara yang terkadang beda prinsip dasar dengan kita, tanpa menyinggung perasaan orang lain?

Jawaban beliau.
bunda Litha yang baik,
Dalam Islam ada yang namanya Kebenaran dan ada yang namanya Kebaikan. Prinsip Hidup bicara Kebenaran, namun di ruang publik Kebenaran harus ditampilkan dalam Kebaikan. Makin kita bisa menunjukkan bahwa Kebenaran yang kita yakini bisa berwujud menjadi Kebaikan yang besar dengan banyak manfaat, maka orang makin respek dengan keyakinan kita. Itulah mengapa Rasulullah SAW walaupun dimusuhi secara prinsip keyakinannya, namun diakui sebagai orang yang baik. Bahkan ketika hijrahpun, sebelum hijrah Beliau SAW mengembalikan barang2 yg dipercaya dititipi kepada Beliau.
Apabila yang dimaksud dengan pendidikan anak, maka dimanapun kita berada, sebagai orangtuanya, otoritas pendidikan ada di tangan kita. Apabila terjadi benturan, maka sebaiknya berpisah atau menyampaikan prinsip kita. ✅

Lanjut pertanyaan 3
Nama: Windi Rayina Rosa
Asal: Klaten
Pertanyaan: Bagaimana mengajak/menyadarkan ayah, yang notabene mereka adalah pemimpin keluarga, bahwa mendidik anak itu juga membutuhkan peran beliau? Ini biasanya terjadi pada ayah2 yang terlampau cuek, jarang bermain dan berkomunikasi dengan anak2nya, sibuk dengan urusannya sendiri, tapi galak kalo anaknya berbuat salah sedikit.
Apakah kalau hanya peran ibu saja sudah cukup untuk membangun peradaban yang baik di dalam rumah?

Jawaban beliau.
3⃣bunda Windi Rayina Rosa yang baik,
Peran Ayah dan Ibu harus berjalan seiring karena keduanya penting, tidak bisa sendirian. Namun seringnya kondisi tidak ideal, para Ayah hari ini, mohon maaf, umumnya malas terlibat mendidik anak, membatasi perannya hanya cari nafkah itupun kadang kurang tangguh dstnya. 
Maka saran saya
1. Jangan menunggu suami sadar, Bunda, bahagiakan dir bunda dengan membersamai ananda dengan seru, semoga Ayah cemburu dengan kebahagiaan bunda dan anak anak. 
2. Sementara melakukan hal no 1. coba sadarkan suami lewat orang lain yang dihormati suami. Banyak suami tak mau mendengar nasehat istrinya, karena ego dsbnya. Bisa juga ajak kunjungan ke keluarga yang sukses mendidik anak. Bisa juga libatkan ke komunitas agar terinspirasi. 
3. Sementara melakukan no 1 dan 2, bunda coba gali penyebab mengapa suami demikian. Jika kita sibuk dengan "bagaimana" maka solusinya hanya temporer, tetapi sibuklah dengan menggali mengapa suami demikian. Umumnya suami yang cuek dengan anak biasanya suami yang tak bahagia dan tak selesai dengan dirinya, penyebabnya beragam, bisa karena masalah aqidah, ia tak merasa mendidik anak bagian dari aqidah. Bisa juga karena salah karir atau salah bisnis atau overload pekerjaan sehingga tak fokus dengan anak. Bisa juga karena masa kecilnya tak punya sosok ayah yang baik, sehingga tak punya idea menjadi ayah yg baik. Bisa juga karena, egonya cidera, banyak dimarahi dan dikendalikan ketika masa anak, shg egois atau peragu. dsbnya. Setelah ketemu penyebabnya, silahkan digali lebih dalam akar penyebabnya. Semakin dalam mengetahui akibatnya, semakin tajam solusinya. 
4. Banyaklah mendoakannya, jangan memusuhinya, banyaklah bangun malam utk meminta kepada Allah dengan rewel agar Allah intervensi menyadarkannya. Allahlah yang membolak balikan hati manusia bukan? ✅

*Pertanyaan 4*
Nama: Septiana
Asal: Purwokerto
Pertanyaan:
Terkait kewajiban orang tua di bagian Tarbiyah dan Ta'dib,,sesuai ajaran islam kah bilamana peran tersebut digantikan semuanya di pesantren (misalkan anak kita memilih mondok saat usia 7th)?

Jawaban beliau.
4⃣bunda Septiana yang baik
Silahkan saja dipondokkan, sepanjang ada pengganti sosok ayah dan sosok bunda di pondok, sampai usia 15 tahun. Seorang anak membutuhkan sosok ayah dan sosok ibu yang tentu bisa menjadi murobby dan muadibnya yang telaten dan penuh cinta, sampai usia 15 tahun.
Saya selama 5 tahun mempelajari berbagai konsep pondok pesantren, termasuk pesantren leluhur saya di Ciamis, ternyata di masa lalu ponpes hanya menerima anak yang sudah usia aqilbaligh sekitar usia 14-15. Jika di bawah usia itu biasanya anak yatim, dan mereka tidurnya di rumah Kyai dan Nyai bukan di asrama.
Sebagai contoh di Jogjakarta, ada ponpes Muhammadiyah pertama, Mualimin Mualimat. Dulu ini adalah semacam pendidikan untuk Guru yang dipersiapkan sebagai kader Muhammadiyah untuk dikirim ke daerah2 pelosok di Indonesia. Sekarang menjadi tsanawiyah dan aliyah, dan yang menarik adalah utk tingkat tsanawiyah tidak diboarding atau diasramakan tetapi dihomestay kan. Homestay maksudnya, ada rumah dengan sosok ayah dan sosok ibu dengan maksimal 10 anak untuk setiap rumah. 
Nah saran saya sebaiknya dipondokkan paling cepat usia tsanawiyah namun dengan sosok ayahibu yang lengkap, karena ananda butuh sosok ayah dan sosok ibu sampai usia 15 tahun.
Saya mempelajari kasus2 anak yang diboarding terlalu cepat, ketika dewasa mengalami berbagai hal seperti kecemasan, membenci perempuan, menolak hubungan dekat dsbnya. 
Lagipula buat apa dalil2 alQuran dan alHadits tentang pentingnya mendidik orangtua, jika semuanya dititipkan? Lalu apa yang kita jawab di akhirat kelak? Karena kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang anak kita bukan siapa siapa ✅

Moderator: Kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang anak kita.
Jadi untuk usia dibawah 15tahun memang sebaiknya lebih banyak bersama dengan orang tuanya? Begitu ya ustadz?
Ustadz: saran saya begitu, sudah banyak kasus, kecuali pondoknya menyediakan Murobby dan Muadib yang sangat baik. Setahu saya jarang ya, karena biasanya hanya ustadz dan ustadzah untuk ta'lim
Lanjut pertanyaan ke 5
*Pertanyaan*
Nama: pupah 
Asal: Pamulang
Pertanyaan:
1. Mengenai beberapa fitrah yg sudah dijabarkan, apakah ada urutan nya dalam hal proses pendidikan nya ? Misal, pertama harus fitrah A ini dulu, kemudian fitrah B. 
Atau semuanya harus sejalan?

2. Apakah membangun peradaban dari rumah ini, murni tugas ibu atau ayah & ibu ? Jika kondisi nya ibu lebih banyak / dominan membersamai anak.
Terimakasih
Jawaban beliau.
5⃣bunda Pupah yang baik,
1. Semua aspek fitrah harus tumbuh bersamaan, namun untuk tiap fitrah ada golden age nya masing masing. Untuk fitrah keimanan dan fitrah estetika bahasa, golden agenya pada usia 0-6 tahun, untuk fitrah belajar dan bernalar pada usia 7-10 tahun, untuk fitrah bakat golden agenya pada usia 11-15 tahun, untuk fitrah seksualitas dan fitrah jasmani golden agenya ada di sepanjang usia anak, untuk fitrah individualitas dan sosialitas maka golden age individualitas di usia 0-6 tahun, dan sosialitas di usia 11 - 15 tahun. 
2. Masing masing ada perannya dan harus sinergi. Jika ibu lebih dominan, maka akan banyak pengaruhnya, buruk untuk ibunya (menjadi keayahan, sumbu pendek, pencemas berat, dll) dan buruk untuk anaknya ✅

*Pertanyaan 6*
Nama: Ina
Asal: Serang
Pertanyaan:
bagaimana kita sbg orang tua menjelaskan pendidikan seksual kepada anak dgn penjelasan yg islami? kadang anak2 mulai bertanya bagaimana aku bisa ada di perut ibu? gimana cara Allah bisa memberi aku adik? kenapa aku dilahirkan sbg perempuan? dll. terima kasih

Jawaban beliau.
6⃣ bunda Ina yang baik,
Pendidikan seksualitas dalam Islam lebih kepada bagaimana seorang anak lelaki menjadi lelaki sejati dan bagaimana seorang anak perempuan menjadi perempuan sejati. 
Proses terkait reproduksi dijelaskan sesuai tahapan usia, jika di bawah usia 7 tahun lebih kepada aqidahnya, misalnya mengapa aku ada di perut ibu, maka jelaskan bahwa Allah yang meletakkan di sana. Jika usia 7 - 10 tahun, maka jelaskan sesuai nalarnya, bahwa ada pernikahan dan pertemuan ayah dan ibu sehingga terjadi pembuahan, cukup sampai di sini. Ketika usia 11 - 15 tahun, ceritakan bahwa terjadi proses pembuahan yang diawali pernikahan yang syar'i dstnya, tanpa dijelaskan detail anak usia di atas 11 insyaAllah akan paham. 
Namun ingat pendidikan fitrah seksualitas bukan itu, tetapi persiapan menjadi ayah dan menjadi ibu yang baik, menjadi suami dan menjadi istri yang baik. Hal ini tak pernah diagendakan serius dalam pendidikan kita, umumnya hanya fokus kepada otak dan bakat semata. ✅

Semoga terjawab ya mbak Ina.
*Pertanyaan 7*

Nama: Neneng Mida
Asal: Bekasi
Pertanyaan:
Bagaimana cara mengenalkan adab tanpa menjadikannya batasan eksplorasi anak yang nantinya malah membuat anak merasa serba tidak boleh..
Misal : anak makan kue yang disajikan tuan rumah ketika bertamu smp habis atau anak berlari2 ketika d dlm kereta.

Jawaban beliau.
7⃣bunda Neneng Mida yang baik,
Mendidik Adab harus memperhatikan tahapan usia
Usia 0 -6 tahun, adab diimajikan positif, bukan perintah dan sempurna, tetapi terpesona dengan kebaikan adab walau tak sempurna. Yang harus beradab di usia ini adalah orangtuanya, agar tidak tergesa mengAdabkan anak, tidak menggunakan ukuran adab utk orang dewasa, menyediakan lingkungan yg positif agar ananda mau beradab tanpa paksaan, memberikan keteladanan yang baik sehingga ananda terpesona dengan adab, adab lebih kepada keindahan bukan ketertiban dstnya. Intinya jangan sampai anak malah membenci adab karena kita tergesa mengAdabkan atau memberi lingkungan yang tak paham.
Usia 7 - 10 tahun, ini tahap adab diperintah atau diorder, semua adab. Tentu bertahap sampai usia 10 tahun. Sholat adalah Adab tertinggi kepada Allah dan baru diperintahkan oleh orangtua untuk menyuruh anaknya pada usia 7 tahun bukan sejak dini. Adab pada usia ini lebih kepada logika dan keseruan aktifitas sehingga muncul kesadaran untuk mengatur diri. Ini bertahap sampai usia 10 tahun, dan jika masih tak beradab boleh "dipukul" (tak menyakitkan, tak membekas dan tak memalukan). Adab juga diperoleh dari keteladanan para tokoh, maka penting utk melakukan napak tilas ke situs2 Islam, homestay di rumah Ulama dll
Usia 11 - 15 tahun, diharapkan Adab sudah menjadi kebutuhan dan diperoleh dari hikmah2 dalam kehidupan. Ini tahap memberi ananda ujian kehidupan sehingga mendapatkan adab dari pengalaman, hikmah kehidupan dll

*Pertanyaan ke 8*
Nama: Hilma Nurul Fitrian
Asal: Garut
Pertanyaan:
Bismillah.. ustadz mau tanya. Apa fitrah anak usia 0-6 tahun? Apakah di usia itu anak boleh dididik menjadi penghafal al Quran? Bagaimana jika kenyataannya pendidikan tersebut tidak sesuai dengan fitrah bakat anak kita? Apa yg harus dilakukan orang tua?
Jazakallah khayran..

Jawaban beliau.
8⃣bunda Hilma Nurul Fitrian yang baik,
Fitrah perkembangan anak usia 0 -6 tahun adalah pusat perasaan bukan pusat kepintaran, puncaknya imajinasi dan abstraksi bukan puncak kognisi. Ada 8 hal yang Rasulullah SAW alami selama masa usia dini di bani Sa;diyah yaitu lingkungan yang hanif, sosok ayah ibu yang dekat, bahasa ibu yang sempurna, keindahan syair dan kisah, fisik yang kuat dengan menaiki bukit, memelihara kambing untuk executive functioning,  rasa dihargai dan dipercaya dstnya. 
Menginginkan ananda hafal alQuran sangat mulia, namun di usia ini sebaiknya disesuaikan metodenya, dan orientasinya bukan target hafalan namun kecintaannya kpd alQuran. Menjadi hafizh memang diperlukan bakat yang kuat dan cepat untuk menghafal, jika ananda nampak tidak kuat dan cepat dalam menghafal maka sesuaikan saja kecepatannya, karenanya saran saya jangan ditarget utk usia di bawah 7 tahun. Metode terbaiknya talaqi, suasananya harus nyaman dan sesuai karakteristik anak, sebaiknya orangtuanya yang mentalaqi karena yang paling paham anaknya ✅

Nama: Eva
Pertanyaan:
1. apakah adakah semacan tabel indikator untuk orang tua mengtahui apakah fitrah anak tumbuj sesuai dengan tahapannya gitu.
jadi case nya begini eva punya anak dua yang pertama usia 6th 11 bulan, dan 3th 7bulan, nah setiap kali berebut maenan selalu adiknya yang mengalah dengan kakak, padahal secara usia bukan kah harusnya kakak yang mengalah untuk adik, nah disini saya berpikir kayaknya ada yang salag nih sama fitrah kakak.

9⃣bunda Eva yang baik, 
Indikatornya tiap fitrah berbeda untuk tiap tahap usia. 
Usia 0 - 6 tahun, untuk kasus di atas adalah fitrah individualitas atau ego.
Secara ego, di bawah 7 tahun, ananda masih mengalami fase yang disebut ego sentris, ananda merasa dirinya pusat semesta dan yang lain harus mengalah dsbnya. Dalam keseharian nampak menjadi perilaku yang membuat orangtua menganggap sebagai perbuatan yang tak beradab sehingga sering membenturkan dengan adab, misalnya tak mau berbagi, tak mau mengalah, berebut mainan, pakai baju tidur ketika mau ke walimah, atau baju walimah saat mau tidur, tidak mau dituntun dll. 
Ini gejala normal sebenarnya, namun banyak orangtua merasa anaknya perlu digembleng adabnya utk berbagi, mengalah dll akibatnya adalah membuat egonya cidera. Ketika di atas 7 tahun nampak menjadi dua hal, menjadi sangat peragu atau menjadi sangat egois.
Tapi bukan berarti tidak dikenalkan adab, namun tidak dibenturkan dengan adab ketika sedang tak mau mengalah, dll, nanti ketika egonya reda, bacakan kisah2 indahnya berbagi, kisah sayang adik dll. 
Saran saya, mainan diberi nama, agar ketika rebutan harus dikembalikan ke pemiliknya. Adik tak harus dibela, kakak tak harus mengalah, kembalikan kpd pemiliknya. 
Penyebab lainnya, ada kemungkinan Sibling Rivalry, ada kecemburuan kakak pada adik, biasanya berlangsung sejak adik lahir, kakak selalu menindas adik dsbnya. Ini juga sama treatmentnya, tidak dimarahi tetapi juga tidak dibiarkan, tetapi dibangun keyakinan dalam dirinya kalau ayahbunda sayang padanya, misalnya dengan jalan berdua saja, memasang fotonya di ruang keluarga, memberinya loker, membacakan kisah pentingnya punya adik dll silahkan direnungkan saja ya ✅

nama : ocha
asal: serang
pertanyaan:
1. Bagaimana cara untuk merawat fitrah keimanan, terlebih saat ini akses hiburan seperti game, acara televisi, dan musik ad mudah djumpai disekitar kita.
Apakah hal ini akan berpengaruh terhadap fitrah keimanan? terutama untuk menumbuhkan kecintaan terhadap agama salah satu nya mendengarkan al quran.
2. apakah ad standar/parameter mengukur setiap fitrah berkembang dgn baik di setiap fase anak mulai dr usia dini-akil baligh?
3. apakah bisa djelaskan contoh stimulasi utk merawat n mengembangkan fitrah keimanan dr usia dini- akil baligh?
jazakillah ahsanal jazaa  

Jawaban beliau.
bunda Ocha yang baik,
1. Usia 0 -6 tahun, ini tahap ananda harus steril karena fitrah masih rentan, ini tahap serius membuat ananda jatuh cinta kpd Allah, Rasulullah SAW, Islam dan kebaikan2 lainnya, disamping tahap membangun attahcment atau bonding dengan ayah ibunya. Jika tahap ini sukses dilewati, maka kita tak perlu khawatir untuk tahap 7 - 10 tahun, karena kecintaan yang hebat pada tahap sebelumnya akan membangun kesadaran di tahap ini. Terpapar sedikit di usia ini justru baik sebagai imunitas, dengan syarat kecintaannnya kpd Allah dan kebaikan sangat mendalam, dan yang juga penting kedekatan dengan ayah bundanya, karena mereka akan menjadikan rujukan tertinggi ketika menemui berbagai hal. 
Karenanya saya tak pernah percaya ada anak salah gaul, yang ada adalah salah asuh. Anak yang fitrahnya tumbuh indah seperti ikan hidup di laut, bertahun tahun berenang di samudra yang asin tak membuat asin tubuhnya. Berbeda dengan fitrah yg tak tumbuh, ia bagai ikan mati, hanya butuh beberapa hari di rendam di air garam utk menjadi ikan asin.
2. Ada saya lampirkan dalam gambar di atas
3. Ada dalam lampiran

waiyyakum ✅
Share:

Thursday, July 11, 2019

MY FASHION

Seperti janji saya sebelumnya bahwa saya mau review tentang baju yang saya pakai, kuy, sekarang mumpung si bayi tidur.



Kata orang, lewat pakaian kita bisa menebak kepribadian seseorang. Kalau menabrak warnanya, mungkin dia termasuk orang yang cuek dan kurang memperhatikan penampilannya. Kalau dia perhatian pada warna bajunya, menyenadakan warnanya, bisa jadi dia orang yang cukup perhatian dengan penampilannya dan tanda bukan orang yang cuek. Kalau dia berpakaian rapi, pasti orang tersebut tipe orang yang perencana dan perfeksionis. Ah, begitu lah kata orang. Benar tidaknya hanya mereka yang tahu. Hehe.
Tapi, saya salah satu orang yang meyakini hal tersebut. Menurut pengamatan salah satu guru saya yang sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan, saya termasuk orang dengan tipe belajar visual. Maksudnya? Iya, jadi kalau belajar mudah paham dan masuk dengan bantuan gambar, warna, dan atau tulisan. Wow. Saat saya diamati seperti itu, saya tak percaya sebab kok beliau bisa tepat? Hebaaat. Pikir saya.
Yup, saya adalah salah seorang yang memiliki keinginan untuk bisa berpenampilan baik, rapi, wangi, dan anggun. Semua itu bukan untuk apa² tapi fitrah saya sebagai perempuan lah yang menuntut saya harus seperti itu. Belum lagi peran saya sebagai seorang muslimah sejati آمين
Nah, oleh karena itu saya percayakan penampilan saya pada dua brand yang saya favoritkan. Apa itu?
1. Argadine by Elizabeth
Saya biasa memakai atasan dari Argadine by Elizabeth. Awalnya saya dikenalkan oleh Kakak pertama saya sama brand ini. Murah dan modelnya elegan, saya konsisten memakai brand ini. Di Argadine gak cuman atasan, semua komplit. Ada atasan, bawahan, cardi, blazer, kerudung, gamis, kaos, jaket, dll.
Kalau boleh bilang, untuk gamis, karena Argadine bukan brand Islami banget jadi gamisnya masih harus di-mix and match agar bisa sesuai dengan syariat. Misal, saya punya dua gamis dr Argadine. Pertama menerawang karena bahannya tipis. Kedua, bahannya tebal, sih, tapi nyetak banget soalnya bahannya jatuh. Saya gak tahu sih bahan apa itu wkwkwk. Jadi, untuk mensiasatinya, yang tipis saya pakai sweater panjang tangan + selutut dan untuk yang nyetak saya pakai cardi lekbong + selutut. Aman deeeh. Hehehe.
Untuk kerudung, saya sempat nyari² kerudung syari di sana. Eh, salah tempat kayaknya. Wkwk. Karena kebanyakan pasmina dan segi empat modern yakni yang pendek gak ada yang panjang.
Kalau nyari yang panjang mungkin tempatnya di Rabbani ya, Gaes. Saya sih belum pernah ke Rabbani langsung.
2. Alila
Sebagaimana tagline-nya, "Alila sahabat untuk taat", brand milik istri ustadz Felix Siauw ini bener² sahabat buat taat bangeeet. Selain harganya murah (ya ada juga yang mahaaal sih), juga desainnya syar'i banget. Gak menerawang, wudhu friendly, busui friendly, dan bisa digunakan buat akhwat yg aktif di outdoor or indoor. Tapi, gak sama sekali menghilangkan keanggunan kita as a woman aseeek. Hehehe.
Iya, dari zaman kuliah saya percayakan ke Alila. Kerudung. Sekarang, saya baru punya dua gamis Alila. Pertama gamis hari sama khimar pet-nya warna cokelat. Kedua, gamis oleaf warna pink. Uhuy. Next, sih, pengen order gamis Alila yg ada daun²nya lagi (lupa namanya apa). Hehehe.
3. Randomly
Yang ketiga ini saya beli random. Ada yang beli di Tanah Abang dua pieces. Gamis lamaran sama kemeja panjang warna biru. Ada juga yang beli di DT. Ada juga hadiah dari teman.
4. Itang Yunasz
Saya juga pakai kerudung voal dari Itang Yunasz. Bagus banget. Sukaaaa. Warnanya cokelat lembut gitu. Harganya Rp150000 saya beli di Tanah Abang blok A. Kerudung kaporit saya banget ini mah. Next rencana mau beli kerudung voalnya Shireen Sungkar dan Zaskia Sungkar yang warna biru. انشاء الله Doain yaaa swmuaaa.
5. Fullheart
Brand ini milik Ustadz Salim A Fillah. Kerudung sih. Tapi kurang sreg jadi jarang dipakai. Rencananya mau di-preloved kan. Siapa yang mauuu?
Gitu aja sih.
Next time saya ingin sekali ke Elizabeth lagi. Di sini tokonya jauh dr rumah. Ada di Buah Batu, Ciwalk, dan Mall² lainnya yang jarang dikunjungi. Beda pas di Bintaro, dekeeet. Tinggal nge-Grab. Hehe. Tapi, unk model, bagusan Elizabeth yang di Serang loh dibandingkan Elizabeth Bintaro. Hehe.
Yup see you next time!
Share:

iPhone 6 & Xiaomi red note 4

Dua hape itu lah yang menemani hidupku dari tahun 2018-2019. Mimpi punya hape iPhone udah terwujud hampir setahun merasakannya. Dan now nyaman sama Xiaomi redmi note 4 black. Dulu pas pake iPhone warnanya pink cewek banget sih wkwkwk.


Kenapa aku ganti? Aku coba jelasin plus minus si iPhone ya.
+
Kameranya endeus banget. Cocok buat main Instagram. Buat video di Insta Story gak pecah. Fotonya diprint juga gak pecah². Nice banget. I love it! Pokoknya juara kameranya!
Keyboard-nya enak. Simpel dan sederhana. Kusukaaaa!
Akses ke email via media di dalam iPhone nya mudah banget. Jadi kemarin tuh kepake banget email bawaan dr iPhone. Aku gak pake gmail jadi di sana ada email bawaan tapi pake akun Gmail kita sih masuknya mah. Hehehe.
Fast charging system.
-
Gak bisa dual SIM. Sesekkkk akutuuu.
Gak bisa gonta ganti tema. Gemes akutuuu.
WhatsApp-nya anti-mainstream. Gak hijau² kek biasanya. Jadi, asa gak seru.
Tapi over all aku puasss dan bahagiaaa pernah pake iPhone 6 hehehe.
Sekarang Xiaomi
Aku cerita dulu kisah sebelum aku beralih ke hp sekarang.
Jadi, karena aku bosen sama iPhone. Gak bisa gonta ganti tema. Gak bisa dual SIM, dan WhatsApp-nya yg spesial, aku akhirnya ganti dengan Oppo A3S yg lagi hits itu. Phisicly, sih, ok. Cuman, kok, kurang sreg hati aku pas gunain kameranya. Baik itu kamera depan atau kamera belakang. Gak asik buat dimasukin ke Ig. Mungkin dulu aku kurang ngeksplor aja kali ya. Entah lah. Akhirnya, hp itu dipake adik ipar dan sekarang aku pake Xiaomi redmi note 4 black. Ku memutuskan memakainya karena setidaknya kamera mi ini masih bisa diandalkan lah yaaaa saat aku masukin ke editor photo VSCO. Gak kaya hasil foto dr Oppo, pas dimasukin ke VSCO hasilnya jadi aneh dan gak enak diliat. Ya udah, aku gak suka dari situ. Dan lebih suka ke hasil kamera si mi note 4 ini. Ditambah bisa juga kita pake kamera dengan fitur "kotak" untuk mendapatkan hasil foto yang pas buat diaplot ke Ig. Mirip² lah sama si iPin hehe. Akhirnya, OK, aku udah sreg sama dia.
Tapi, godaan datang. Pas melayani konsumen, aku pegang hp salah satu konsumen yang pake hp Xiaomi full screen itu, lho. Sumpah, enak bangetttt dipakainya. Aku langsung jatuh cintrong gitu. Dan ngarep banget bisa punya yang itu.
Lain hari, aku juga megang hp konsumen. Saat itu hpnya iPhone 6s. Lebar, Cu. Enak beneeer. Kusukaaaa. Masih baru kayaknya. Soalnya masih keset gitu wkwk. Lagi² ku kepincut Dan ngarep sama Allah punya iPhone lagi Tapi, ya udah sih ya. There is soooo impossible for me now. I just a full time mother  Dari mana kubisa belinya  Eh, tapi padahal ada Allah, ya. Minta aja ah sama Allah  Ya Allah, pengen hp iPhone 6s or iPhone x laaaah. Buat nyari ilmu, buat memunguti ilmu-Mu. Aku mau ya Allah. Tanpa menghilangkan hp mi ini  Kok, aku terkesan nafsu, Gaes? 
Nah, tadi siang yang terbaru. Lagi² aku pegang hp konsumen. Hpnya iPhone 6s. Aduduh aku ngehalu lagi. Dan pengen minta lagi sama Allah ahhhh.
OK kok malah jadi melow gini review-nya wkwk helaw. Maafkan ya, Gaes. OK lah itu aja sih ya review-nya. Gak banyak. Alakadarnya aja. Semoga di thread selanjutnya aku udah pake si ipin yaaaa. Makasih ❤️❤️
Share:

Thursday, July 4, 2019

WHY I WANT TO BE A TEACHER?

Menjadi seorang pengajar bukan lah impian utamaku. Di masa-masa kuliah, profesi guru adalah profesi yang dijadikan pilihan terakhirku kala berbincang dengan sejawat. Kalau mentok gak diterima di mana-mana, baru ngajar. Begitu pikirku. So somvong.

Tapi semenjak aku terjun langsung malah jadi cinta. Apakah ini yang namanya kabadi? (Sundanese). Hehehe.
Aku ingin menjadi pendidik. Pendidikan adalah variabel penting dalam kehidupan. Dengan pendidikan, kemiskinan bisa hilang. Dengan pendidikan, kebodohan akan musnah. Tak heran kalau Islam sangat menuntut agar kita terus belajar dan mencari ilmu. Dari lahir sampai liang lahat. Ya, karena hanya dengan ilmu lah semuanya jadi tertata. Termasuk diri sendiri. Dengan ilmu lah kita bisa bersosialisasi menjalani kehidupan.
Menjadi pengajar kini jadi keinginan saya. Lewatnya saya ingin membuat peradaban. Lalu pendidikan yang seperti apa yang bisa mengembalikan sebuah peradaban yang telah hilang itu? Tentu dengan pendidikan yang mengutamakan Alquran dan Hadits.
Ada beberapa tokoh praktisi pendidikan yang membuat saya benar² jatuh cinta pada dunia pendidikan. Siapa mereka? Banyak. Munif Chatib. Beliau konsern sekali dalam dunia pendidikan. Septriani Murdiani. Seorang penggagas sekolah alam yang berhasil menerbitkan buku "Bahasa Bunda Bahasa Cinta" dll yang tak bisa saya ungkap satu persatu. Apa males, ya? Hehe.
Bicara tentang pendidikan hari ini, saya sebenarnya mau ada tes ngajar sih. Jadi aja nulis biar inget apa yang ada di otak. Ini semacam jaga² siapa tau ditanya soalan pendidikan, kenapa mau jadi guru, dll. Saya orangnya pelupa akut, Gengs! 藍 Jadi, kalau sudah dituliskan insyaallah ingat.
Share:

Wednesday, July 3, 2019

REVIEW MERK BAJU ANAK

Assalamualaikum, Moms. Di mana pun berada. Pagi ini di tengah kesibukan saya ingin berbagi tentang pengalaman saya tentang baju anak.
Saya termasuk orang tua yang berharap bisa memberikan pelayanan terbaik kepada anak yabg yang notabene adalah amanah dari Allah. Tidak hanya masalah didikan, asupan makanan, tapi juga terkait pakaian yang dikenakan.
Hal ini saya lakukan sebagai tanda syukur atas Kemurahan Allah menitipkan amanah kepada saya dan suami. Saya ingin tanda syukur itu tampak teraplikasi. Oleh sebab itu, saya dan suami berusaha sekuat tenaga dan tentunya minta bantuan Allah, agar dimampukan untuk memberikan yang terbaik bagi anak lelaki kami, Zidan.
Kenapa tentang pakaian?
Sebagai seorang perempuan yang cukup memperhatikan penampilan, saya tergerak untuk mengaplikasikan apa yang saya ketahui tentang fashion.
Maksudnya?
Iya, saya beranggapan bahwa membeli pakaian yang bagus adalah investasi. Kenapa disebut investasi? Pakaian bagus itu bukan melulu soal modelnya yang kekinian, tetapi soal bahannya, jaitannya, kancingnya, lobang kancing, restletingnya, dll. Biasanya pakaian yang bagus itu 'agak mahal' dan itu terbayar karena akan awet dan nyaman dipakai.
Saya pernah diberi hadiah gamis oleh teman. Sebagai kenang-kenangan. Teman saya tipe orang yang tidak terlalu memikirkan merk dan brand, sih, ya. Jadi, gamis yang dia berikan juga gamis biasa yang dijual dibawah seratus ribuan. Saya pernah coba pakai. Baru beberapa menit saya sudah angkat tangan tidak ingin memakainya lagi. Kenapa?
1. Gerah. Bahan tidak menyerap keringat. Keringat malah masuk lagi ke dalam tuhuh menjadi angin. Padahal saya di Bandung, lho, kota adem 
2. Entah kenapa tiba-tiba saja saya jadi BB alias bau badan. Ketek tiba-tiba jadi bau saat menempel dengan kainnya. Saya tidak biasa BB kan dah pake deodorant 
3. Restletingnya yang kurang lancar saat dibuka tutup.
Akhirnya, saya wariskan ke orang lain. Hehehe. Terus kira-kira saya pakai baju apa sih? Nanti kita review, yaaa.
Nah, kita saja orang dewasa kurang nyaman memakai pakaian seperti itu? Apalagi bayiii? Oleh karena itulah saya berusaha untuk memilihkan Zidan pakaian yang nyaman dan aman untuknya.
Agar Moms bisa punya referensi, ini saya paparkan pandangan saya terkait beberapa brand baju bayi. Disimak, kuy! Saya urutkan sesuai kualitas, ya.
1. ARELLA
Saat hamil usia tujuh bulan, saya dan suami sudah paciweuh alias hectic beli perlengkapan bayi. Saya coba searching toko bayi terdekat dengan tempat tinggal. Lebih spesifiknya saya mencari toko bayi Yen's terdekat. Ada di daerah Dakota. Tepatnya di Borma Dakota. Di sana saya memilah milih pakaian newborn. Dulu belum tahu apa-apa tentang merk baju bayi. Gelap. Bahkan saat belanja pun asal ambil aja. Toh itu yang tersedia di spot NEWBORN.
Waktu berjalan, saya mulai mengamati pakaian bayi yang saya beli. Kenapa saya amati? Karena saya amat terbantu sekali dengan desain baju yang dibeli tempo lalu. Saya amati dan amati akhirnya saya jatuh cinta sama Arella. Kenapa bisa sampai jatuh cinta?
/ Bahan baju Arella enak, adem. Cocok buat anak yang baru lahir yang belum pakai kaos dalam.
/Kancingnya nyaman di tangan.
/Lobang kancingnya pas dan tidak mudah melebar.
/Jahitan rapi tidak ada benang yang tercecer.
/Karet celana tidak terlalu kencang. Sangat nyaman dan tidak meninggalkan bekas di kulit bayi.
/Jarak antara kancing pertama ke leher aman tidak mengunci leher.
/Desain kancingnya pas antara kancing yang satu dengan yang lain.
/Gambar merknya lucu.
/Ada keterangan usia di bajunya di bagian dalam.
/Desainnya apik.
/Warna tidak pudar.












Pokoknya jatuh cinta banget sama Arella. Rasanya ingin memburu lagi baju-baju lain buatan Arella. Tapi, harus ke Borma Dakota. Jauuuh. Semoga bisa suatu saat nanti. Hehe. Saat itu saya dan suami membeli empat stel pakaian Arella satu usia 0-3 bulan, sisanya 3-6 bulan. Dan dua stel sudah disimpan rapi (sudah kecil). Sisanya masih bisa dan sudah cukup sempit juga. Hehe. Merasa terbantu banget sebagai Newmom akutuuuh. Safety banget bajunya. Love love love! Rate 10.
2. Baby Chiyo


Zidan dapat warisan dari sepupunya. Saya coba amati, brand Baby Chiyo cukup bagus. Bahannya lembut. Warna dan gambarnya juga soft. Tapi, saya belum pernah beli langsung brand ini. Mungkin nanti mau. Rate 9.
3. Nova



Brand baju Nova saya dapatkan saat belanja di Indokids yang ada di Borma Permata Cimahi. Kala itu ada toko bayi yang baru launching di sana. Saya dan suami sangat antusias sekali mencoba belanja. Dan, hmmm, ya, saya membeli dua jumper dengan brand Nova.
Dari segi bahan, masih kalah sama Baby Chiyo. Bahan brand Nova ada yang kasar. Pun ada yang lembut, namun kurang nyecep ke hati lembutnya (saya pakai bahasa planet, Guys!). Dari segi warna sangat mencolok, cocok untuk bayi. Kancing juga pakai kancing manual. Cukup bagus seperti Arella. Hanya saja, kemarin saya beli dua jumper, hanya dipakai dua kali oleh Zidan. Sisanya tidak muat. Bahannya tidak mengandung karet, sih, ya. Jadi stuck di situ. Gak bisa ditarik-tarik. Rate 8.
4. Bebiso







Kalau brand ini pertama kali saya 'ngeh' saat istri sepupu suami memberikan hadiah dua set baju brand Bebiso. Kalau diteliti, bahannya Bebiso yang kaos itu lembut, bisa menyerap keringat, tidak panas alias adem, bahannya bisa melar, dan desainnya lucu-lucu. Ada yang berupa bordiran, ada juga yang berupa sablonan (tentunya safe buat bayi). Saat meluncur ke toko baju bayi Indokids, ternyata di sana banyak sekali brand Bebiso. Hmmm. Rate 9.
5. Fluffy
Saya banyak mendengar review rentang brand yang satu ini. Oleh karena itu saya coba beli. Pas beli saya cukup kecewa karena menurut saya kurang cocok sama ekspektasi. Ada kelebihan dan kekurangannya sih di merk ini tuh. Pertama, gambarnya bagus. Cuman kurang sreg sama desain kancing bajunya. Kancing bajunya juga gak memberi kenyamanan ke tangan. Susah dibukaaa. Ditambah posisinya terlalu atas sampai menempel ke leher. Mengunci leher. Belum posisi lobang kancingnya yang disimpan di bagian keras baju, jadi sulit. Sisanya malah di bagian kain yang lembutnya, jadi menurut saya tidak konsisten. Belum karet celananya yang amat kencang.  Meninggalkan bekas di kulit bayi karena kekencengan. Rate 5.
6. Tororo
Saya beli di Bukamall BL. Harganya sedikit lagi mencapai seratus ribu satu stel. Berupa kemeja pendek dan celana pendek. Saya pikir ini safety buat bayi. Tapi, dugaan saya kurang tepat. Kemeja bahannya keras. Kancing sulit dibuka. Tidak menyerap keringat. Panas. Celananya pun sama. Karetnya terlalu kencang jadi menimbulkan bekas di perut bayi. Bahan celana juga keras. Rate 5.
Ya itu lah review saya tentang brand baju bayi based on my experience.
So, pilihan ada di tangan kamu, Moms. Hehe.
Share:

DETERJEN FAVORITKU

Guys! Aku hadir lagi, alhamdulilah. Mumpung Zidan bobok. Emak lagi kosong lanjut aja kita buat threadddd!

Kali ini ngebut. Maap² aja dah ya.

Aku udah banyak nyoba deterjen² selama ini. Tapi, dua tahun di Bintaro, aku pake deterjen cair dari Rinso, Attack, dan Alfamart. Aku nyaman² aja. Biasanya, aku basahin cuciannya, terus dikasih deterjen. Dikecrok² dikit, terus diemin di KM beberapa menit (kadang lolos sampe beberapa hari, hwaaa). Itu pun OK² aja lagi zaman lajang mah. Gaya cuci itu aku lakukan soalnya sering gak bersih kalau nyuci baju. 

Jadi, kalau udah dikasih deterjen, dikecrok² dikit, didiemin, terus dibilas, segitu juga udah wangiii. Kotorannya hilang tanpa harus susah² nyikat. Kadang sih jadi bau kalau kelamaan direndam. Suka kesel akutuuu.

Ehhh, kebiasaan itu tuh kebawa sampai nikah. Pernah ditegur suami, sih, katanya nyuci kek gitu mah boros deterjen. Aku jelasin bahwa nyuci dengan gaya kek gitu teh hasil penelitian aku selama ini. Gaya nyuci itu lah yg cocok sama kepribadian aku. Asekkk. OK suami paham.

Pas sebulan paska melahirkan tinggal di rumah mertua dan beliau melihat gaya mencuciku tsb, dor! You know what happened laaah ya. Hahahaha.

Kepikiran terus sampai pisah rumah ke kontrakan. Perih sih tapi ya udah sih yaaa. Lebay amat wkwk. Biasa itu mah. Derita menantu emang. Di mana² begitu. Skip.

Setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan semuanya, akhirnya jatuh lah pilihan deterjenku ke deterjen bubuk Attack yang Anti Bauuu.

Sebagai New Mom plus Newbie aku sering kebablasan merendam cucian berhari². Pas masih pakai deterjen cair, makin boros. Udah mah dipakai merendam, terus pas nyuci dipakai lagi deterjennya. Superrr boros. Sebagai wife, daku harus bisa cari alternatif biar bisa irit uang dapur. Ya, pas jenjalan ke Borma, tertarik buat nyobain deterjen bubuk Attack Anti Bau. Alhamdulillah, selain hemat (kepake sebulanan lebih padahal nyuci tiap hari biasanya pake deterjen cair gak sampe sebulan dah habis), juga didiamkan berhari² rendaman gak bau. Ini enak banget buat seorang wife dan mom kek aku yg nyucinya nunggu anak tidur. 

Cucian direndam dulu sekian jam, setelah anak tidur, langsung eksekusi. Tinggal bilas juga, Gaes! Gak usah disikat, dibanting², gak usah. Udah wangi plus bersihhhh. Kaporit bener lah wkwkwk.

Yawdah akhirnya bulan depan pas belanja lagi pun beli ini. Love you deeeh.




Share:

Saturday, June 22, 2019

MATA ADALAH




Mata adalah jendela hati. Begitu kata pepatah.
Sampai beberapa waktu yang lalu, diri ini tidak paham apa maksudnya. Jendela hati apa dengan melihat mata seseorang kita bisa melihat masa lalu orang itu? Setelah saya coba-coba melakukan, tidak ada hasil. Ternyata, begini maksudnya.
Mata sebagai jendela hati itu artinya saat orang memandang kita kadang kita merasakan maksud orang tersebut. Iya, karena mata adalah jendela jiwa dan hati.
Jika orang tersebut suka kepada kita, cara pandangnya akan berbeda dengan orang yang benci. Jika orang tersebut dendam kepada kita, cara pandangnya akan berbeda dengan orang yang kagum kepada kita. Ya, mata adalah jendela jiwa dan hati.
❤️
Share:

Monday, June 17, 2019

BICARALAH DENGAN MULUT

Assalamualaikum, Sob!


Kita jumpa lagi setelah sekian lama tak berjumpa di sini. Malam ini, saya menulis sambil berbaring di kasur. Selain menemani anak saleh tidur, saya juga mencoba meluruskan pinggang dan badan yang cukup kaku setelah seharian berjibaku dengan urusan rumah tangga #acieeeIRT 珞
Oh, iya, alhamdulilah Allah masih memberikan saya kesempatan untuk menulis di sini. Entah kapan terakhir saya mengisi blog ini, terasa begitu lama rasanya karena demam mudik tempo lalu. Hahaha.
Malam ini saya ingin sekali menyampaikan unek-unek saya tentang sesuatu. Jadi, as you know, Guys! Saya tipe orang pemerhati. Cukup memperhatikan apa yang menjadi pertanyaan saya di benak. Saya memperhatikan sampai mendapatkan jawaban yang akurat dari hasil pengamatan saya #halaaahihi 
Jadi gini. Kadang saat kita sedang berinteraksi dengan teman, misalnya ngobrol gitu di kantin. Sekarang profesi saya emak-emak, mungkin ngobrol di tempat tukang sayur perihal cabe bawang habis. Atau naik dan turunnya harga bahan pokok. Hmmm. Dalam obrolan itu saya sering menangkap banyak "sign" yang terlempar dari mimik, gestur, hawa lawan bicara atau pun sebaliknya.
Misal, saya pernah salah menghitung jumlah belanjaan. Si Teteh penjual sepertinya berpikir begini dalam hatinya, "Ih, masa gak bisa ngitung?" Lha, kenapa bisa saya menebak seperti itu? Bukan cuman saya, Anda pun bisa lho!
Kita itu punya hati, Guys! Hati itu ada dua. Ada hati berbentuk daging. Ada hati si mata hati yang dapat melihat something that we couldn't see.
Mungkin kalian familiar dengan lirik lagu religi zaman dulu yang ini, "Hati adalah cermin. Tempat noda dan dosa berpadu." Jangan diterusin nyanyinya, ya. Takut keenakan! Hahaha.
Nah, ada juga nasehat mengatakan, "Apa-apa yang dari hati bakalan sampai lagi ke hati."
Hati kita ibarat sebuah cahaya yang bisa merasuk ke dalam ruang sempit sekalipun. Hati yang mana? Bukan hati yang berbentuk daging, tapi hati yang lain. Saat kita berbicara di dalam hati, apalagi itu menggerutui lawan bicara kita, maka gerutuan itu akan sampai secara implisit #halahapaitu. Maksudnya, aura, hawa gerutuan itu akan sampai pada lawan bicara yang kita gerutui di hati tadi. Ya, karena hati adalah raja. Dia buruk bawahannya juga buruk. Dia baik bawahannya juga baik. Kalau hati kita menggerutu atau menyimpan sesuatu kala sedang berbicara kepada lawan bicara, maka nafas gerutuan itu akan sampai di hati sebab sang raja telah menggerutu di dalam, sang bawahan sekuat apa pun menyembunyikannya akan tetap muncul hawanya. Terasa.
Beda di saat hati tak ikut campur dalam urusan pembicaraan kita dengan lawan bicara. Maka tidak ada yang sampai ke hati. Akan lebih baik jika kita men-treat our heart to be a good heart, a clean heart, and a healthy heart. Dengan memiliki hati yang baik, bersih, dan sehat lawan bicara kita akan menikmati rasa nyaman yang tiada tara. Rasa ingin terus bersama-sama akan menguat. Dan kebaikan itu pun hawanya akan sampai kepada lawan bicara kita.
Jadi, kenapa saya menyimpulkan, "Bicara lah dengan mulut" ya bicara lah hanya dengan mulut jika hati kita belum mampu untuk mengeluarkan hawa yang baik kepada lawan bicara kita hehehe.
Hindari menggerutu dalam hati saat sedang berbicara dengan orang. Bicara saja dengan mulut 
Sejatinya, hati betul adalah cermin~
Share:

Tuesday, May 28, 2019

ILMU MENERIMA


Guys!
Ilmu apa, sih, yang menurut klen paling susah di dunia ini? Math? Physics? Biology?
Hmmm. Ternyata, bukan itu semua. Menurutku, sih, sesusah-susahnya ketiga pelajaran itu, tetap bisa ditaklukan. Kan, udah ada rumusnya, hehehe.
Ternyata (lagi-lagi menurutku, ya) ilmu yang paling susah di dunia itu adalah ilmu menerima.
Wah! Kok, bisa?
Kita bahas, kuy!
Guys! Apa kalian pernah menangisi sebuah cobaan yang mampir dalam hidup? Apa kalian pernah kesal sama seseorang gegara dia coba menasehati kita? Apa kalian pernah marah saat teman kalian menikung? Apa kalian pernah bertanya tanya kepada langit yang bisu, kenapa ditakdirkan berwajah kusam dan bintik-bintik? Kenapa wajah aku yang suka wudu lebih berjerawat dibandingkan wajah mereka yang tidak wudu? dll.
Bagiku, itu semua berawal dari ketidak terimaan kita terhadap kehendak Allah. Kita banyak mengeluh. Mudah marah. Kesal. Dan sifat buruk lainnya kala mendapati takdir yang tak sesuai dengan keinginan kita.
Teman ...
Aku paham betul bagaimana rasanya saat kita ditimpa kesedihan, kemalangan, dan kepedihan dalam kehidupan. Sebab, aku sendiri pun pernah satu persatu mengalaminya. Dan butuh waktu agar kita bisa menerima kenyataan tersebut. Tidak sebentar. Tergantung kita memandangnya bagaimana.
Masalah sudut pandang ini lah yang masih berantakan dimiliki kita kebanyakan. Itulah kenapa ilmu menerima menjadi sulit didapati. Dan masalah jadi lebih berat terasa di pundak.
Jadi, bagaimana sih kita harus memandang sebuah cobaan atau musibah yang datang kepada kita? Agar saat dia datang kita bisa jadi ringan menghadapinya?
Ya, seperti pelajaran matematika, fisika, dan biologi yang ada rumus-rumusnya, maka menghadapi cobaan dan musibah pun ada rumusnya.
Jadi, gak sulit dong ilmu menerima itu? Kan, ada rumusnya?
Ya, tidak sulit jika terus dilatih.
Rumusnya bagaimana?
Gini, untuk mendapatkan ilmu menerima, kita harus tahu bahwa Al-Qur'an menerangkan seorang muslim itu belum dikatakan beriman bila belum diuji dengan kekurangan, kesedihan, dan kelaparan. Nah, ya, jadi, mau ke mana pun kita berlari dari musibah dan ujian, kita akan tetap dipertemukan dengan itu semua. Harusnya kita berbahagia jika dapat musibah. Itu artinya Allah sedang melatih kita. Sedang membersihkan jiwa kita agar kembali lagi kepada-Nya. Jika masih sulit, yakin lah bahwa Dia tidak pernah meninggalkanmu. Tidak pernah melupakanmu. Sebanyak apapun dosa yang telah kita perbuat. Juga, saat Allah menurunkan musibah pada kehidupan kita, Ia sekaligus menurunkan pula kemudahan di samping kesulitan itu. Remember surah Al insyirah!
Dengan rumus di atas, perlahan lahan sudut pandang kita akan berubah dalam menyikapi permasalahan hidup. Bukan hanya jadi enteng, tapi jadi semakin menikmati setiap incinya. Juga, semakin yakin pada Allah bahwa Dia benar-benar Maha Setia. Even we have so many sins ini this life. Lalu kita jadi bersyukur.
Teman ...
Ilmu menerima kenyataan yang ada, tentu merupakan sebuah ilmu yang perkasa. Dibutuhkan jiwa yang bersih dari kekotoran hati. Juga dibutuhkan pengetahuan yang mantap tentang Allah Maha Mengatur hamba-Nya.
Anda orang yang mudah menerima tetakdir? Rida pada keinginan Allah? Selamat! Anda adalah orang yang perkasa. Hehe.
Ternyata, definisi perkasa itu bukan dia yang berbadan tinggi besar seperti HULK, ya. Tetapi, dia yang punya hati besar. Besarnya hati hanya dimiliki oleh mereka yang terus menerus bertaubat saat hatinya dirasa telah terkotori setitik noda.
Bak sebuah cermin yang tertimpa debu. Jika si pemilik rajin membersihkan tiap kali noda muncul, maka kebersihan cermin terjaga. Tapi, lain cerita jika si pemilik malas membersihkan, debu itu akan menumpuk sehingga menutupi cermin tersebut dari menerima pantulan bayangan.
Teman ...
Terima lah, jika saat ini kamu masih belum dipertemukan dengan keinginanmu. Bertemu jodoh misalnya. Eeeh.
Terima lah, jika saat ini Allah takdirkan kamu jauh dengan orang tuamu. Kau perantau, ya!
Terima lah, jika saat ini kamu hidup dalam kesederhanaan. Qonaah squad!
Alhamdulilah-i. Syukuri. Indeed, grateful is the best way to raise a happiness.
Ya, ilmu menerima amat penting kita miliki. Ikhtiar lah untuk mendapatkannya. Minta saja sama Allah. Nanti Allah kasihTrust me!
Share:

Monday, May 27, 2019

TAKING A SKINCARE TO GET A HEALTHY SKIN


Guys!
Kali ini aku mau kasih bocoran tentang skincare yang aku pakai di rumah. Walaupun aku sudah jadi emak-emak. Bukan berarti harus cuek merawat kulit, bukan? Malah seharusnya perempuan paska melahirkan itu harus bin kudu melakukan perawatan untuk tubuhnya. Ini karena perubahan-perubahan hormon dari hamil ke melahirkan mampu membuat penampilan jadi mmm agak gimana gitu, ya. Hehe. Seluruh tubuh ibu melahirkan tuuu jadi berubah. Ada yang berubah jadi bergelambir lah. Jadi melebar lah. Jadi merekah lah, dll. Kalau tidak dirawat, tentu tubuh jadi kurang terlihat sehat.
Nah, untuk daily treatment di rumah, aku lagi nyoba skincare yang lagi hits di kalangan anak muda. Hahaha. Apdet juga diriku 藍 Yups. Yaitu skincare dari Emina. Siapa yang pake brand yang sama juga, ni? Ada? TOS! Hehehe.
Aku pakai facial wash bright stuff Emina. Kemudian aku juga pakai moisturaizing bright stuff-nya. Tak lupa agar aktivitas outdoor-ku tetap aman buat wajah, aku juga pakai Emina Sun Protection SPF berapa tuh lupa. Hahaha. Biar bibir aku merona (aku dandan cuman di rumah, buat suami. It's Sunnah. Hehe) aku juga pakai lip tint dari Emina yang sunglow. Pas mesen ke Kakaknya aku bilang gaslow, Guys! Wahaha. Parah.
Terus, untuk pipi merona, aku pakai Emina Cheek Lit warna pink. Dari bentuk fisiknya saja aku udah suka. Lucu gitu. Uhhh. Lanjut. Selain itu, aku juga pakai BB Cream-nya yang natural.
Nah, yang sering dipakai sih semua kecuali BB Cream-nya. Soalnya, pas mau beraktivitas tuh aku biasa pakai moisturaizing+Sun Protection-nya aja. Itu juga udah lebih dari cukup banget protect-in my face. Aku merasa aman dan nyaman selama beraktivitas di luarnya. Good job, Emina! Dulu pernah nyoba pakai BB Cream-nya pas mau ke rumah Mamah. Tapi, mukaku jadi aneh. Soalnya, antara kulit sama warna BB Cream-nya nabrak. Mmm jadi aku masih pikir pikir untuk memakainya di lain kesempatan. Bukannya bagus malah kayak badut nanti. Wkwkwk. Tapi, bisa jadi itu karena aku terlalu banyak memakai BB Cream-nya, ya.
Satu hal yang aku masih idamkan adalah aku pengen banget punya eye shadow dan pensil alisnya Emina  Entah kenapa pengen banget punya mereka. Ku mau mekap. Entah kenapa kujadi suka mekap gini. Apa karena suka dibilang 'cantik' sama suami? Wahaha.
Selain lewat skincare kita menjaga kesehatan kulit, jangan lupa juga wudunya gaspolin ya. Itu sebaik-baik protector!
FYI, baru kali ini aku pakai skincare sebanyak sekarang. Biasanya gak pernah pakai. Soalnya gak pernah ada yang cocok. Kemarin sempat pakai facial wash dari Wardah. Tapi, pas liat iklan Emina di IG aku jadi beralih haha. Dan pakai produk dari Emina kok malah suka dan cocok! Yang terpentingnya sih cocoknya itu, ya. Yang bikin aku tambah cinta sama Emina adalah ternyata ini tu produk lokal tauk! Coba tolong tepuk keren.
Wow, keren. Wow wow keren. Ye! 3x
Yeee!
Coba komen dong pengalaman klen pake skincare! Lika likunya. Dan sekarang nyaman pake apa? Biar kita bisa sharing pengalaman  Kutunggu, ya!
Share:

DIA SUDAH LUPA? AKU TAK TAHU


Ini kisah tentang seorang anak lelaki yang sering kutemui dua minggu sekali di rumah orang tua suami.
Ya, dia adalah keponakan suamiku. Saat ini usianya baru menginjak tujuh tahun. Baru kelas satu 'esde'.
Di usianya yang masih kecil itu, jangan salah. Dia sudah punya adik. Adik pertamanya lelaki beda empat tahun dengannya. Adik keduanya perempuan beda enam tahun dengannya.
Di usia yang masih butuh perhatian lebih itu, dia sudah harus 'mandiri' dan berperan sebagai kakak. Kalau orang tua tidak menyiapkan langkah untuk bagaimana menghadapi anak pertama yang memiliki adik, maka bisa saja anak pertama jadi kurang perhatian.
Suamiku pernah mengatakan saat aku belum sama sekali bertemu dengannya. Ini ketika pernikahanku masih hangat, sehangat tubuh ayam (apacobaaa), hihi. Dia mengatakan bahwa keponakannya yang pertama kecanduan games dan hape.
Mendengar itu, aku kaget dan segera menganalisa. What's wrong with the parents? Karena setahu aku (yang digembleng banget perihal parenting di sekolah tempatku kerja dulu), tidak ada yang bisa disalahakan jika anak berperilaku seperti ini kecuali orang tuanya.
Praktisi parenting, Abah Ihsan, bilang bahwa saat melihat fenomena anak seperti ini, orang tuanya yang harus taubat.
Aa Gym, seorang dai kondang pun, berpendapat hal serupa. Saat anak jauh dr Allah. Lebih sering menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, maka orang tuanya yang harus taubat.
Perihal kecanduan gawai bukan hal yang sepele lo. Usia tujuh tahun adalah usia anak meniru orang tuanya. Usia anak yang harusnya banyak beraktivitas. Apalagi anak lelaki. Harusnya dia melakukan banyak aktivitas yang membuatnya berkeringat. Outdoor actvities lah istilahnya. Hal ini dilakukan agar aktivitas tersebut dapat membantu menstimulasi rasab eksploring yang ada pada dirinya. Kalau dihabiskan di depan gawai berjam-jam bukan hanya resiko radiasi, tapi juga efek main game itu sangat buruk bagi emosi seseorang.
Kembali ke permasalahan utama.
Pertama kali kami bertemu kala itu dia naik ke lantai atas. Bersama adiknya. Aku, yang notabene mantan seorang praktisi anak kecil yang sangat suka anak kecil, otomatis mudah sekali membaur dengannya. I want to put a smile to that boy! And I want he left his phone and be happy without that. Itu lah ambisiku. Kenapa ada ambisi seperti itu? Ya, karena menaklukan anak kecil itu ada ilmunya. Dan tahu apa ilmu tersebut? Yaitu bagaimana kita mampu membahasakan, memverbalkan perasaan yang sedang anak alami. Dan bagaimana pula kita bisa menghadirkan jiwa dan raga saat bermain bersama mereka. Itu lah kuncinya. Kunci membuka gerbang antara kita dan anak.
Dan. Yikes! Aku berhasil, Guys!
Kala itu kami bermain dino-dinoan menggunakan kardus bekas. Wow. I can't believe what I saw! Dia happy bangeeet. Dia ketawa lepas! Dia terbahak-bahak. Dia merasa dihargai. Dia merasa diakui keberadaannya. Dia merasa, yup, dia adalah seorang kakak. Dia merasa, ternyata masih ada orang yang mencintainya. Setelah selama ini semua orang dewasa menghardiknya tanpa mereka sadari lewat sikapnya yang menyebut, "Kamu kan udah gede. Kamu kan kakaknya."
Itu merupakan peluru-peluru halus menghancurkan jiwanya. Kata-kata yang STOP jangan diungkapkan kepada mereka yang bergelar kakak.
"Oh, jadi, kalau gua kakak, gua gak boleh salah, nakal, dan sebagainya gitu, ya? Siapa yang minta gua jadi kakak? Kalau bisa, gua gak mau jadi kakak."
Mungkin itu yang ada dalam benak bocah kecil yang malang itu. Perhatian surut. Orang-orang serasa tak lagi memperhatikannya. Tak lagi mencintainya karena dia adalah kakak. Juga karena adiknya berada di usia yang lagi lucu-lucunya. Semua orang lebih menyukainya dibanding dia, si kakak.
Kondisi seperti ini jangan heran deh kalau anak nyari perhatian ke gawai. Jadi bengal. Jadi agak susah diajak kerjasama. Jadi cemberut. No more smile in their face. Kasihan! Sungguh terjepit hatinya. Dia masih harus tumbuh dengan bahagia. Kita harus mampu menjaga dan memupuk kebahagiaannya. Ingat, dia lah anak pertama kita. Anak yang menjadikan kita orangtua. Tolong, jaga perasaannya dengan tidak melupakannya.
Singkat cerita. Aku sering bertemu dengannya. Tak ayal dia selalu mencari-cari aku. Bukan hanya sang kakak, tapi juga si adik kecilnya itu. Wkwkwk. Padahal pertemuan pertama itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Tetapi, karena baginya aku amat berkesan (mungkin ), jadi dia ingin sekali bermain dan berjumpa lagi. Terus dan terus. Betul kata pepatah, ya, "Kesan pertama mengubah segalanya".
Kutentu merasa 'cukup' bahagia melihat respon si Kakak yang terkesan begitu (elah). Tapi, karena dia bukan anakku, juga aku baru bertemu dengannya, aku tak bebas memperlakukannya. Kalau dia keponakanku, sih, aku dah gemek gemek mungkin  Itu lah mengapa aku bilang, 'cukup'  bahagia. Sebab, aku batasi kedekatanku dengannya.
Waktu pun beranjak. Aku melahirkan anak lelaki. Masa-masa berat kulewati di rumah suami. Tenty aku bertemu dia pula. Tapi, aku tak lagi memperhatikannya. Sekedar mengusap kepalanya pun kini aku tak melakukannya lagi. Tak seperti biasanya. Intinya, aku sudah punya sendiri loh wkwk. Jadi, monmap kalau aku cuekin kamu, Kakak. Begitu pikiran jelekku menggerayang. Selama tinggal di sana, bertemu dengannya cukup intens. Perhatian itu benar-benar hilang kepadanya. Aku sudah tidak lagi kasihan padanya, waduh! Wkwkwk. Iya, dulu, aku amat prihatin melihat apa yang terjadi. Tapi, sekarang aku sedang dalam kondisi naik turun emosinya. Jadi, benar-benar tidak fokus pada sekitar.
Mengetahui hal itu, aku menyesal teramat dalam. Kusadari semua itu saat aku sudah berhasil melewati masa nifas dan kembali ke kontrakan. Aku menyadari bahwa itu adalah kesalahan terbesar. Egoisnya aku! Betapa bodohnya aku. Begitu lah alam fikirku berkata. Aku sibuk menyalahkan diri sendiri di rumah, wkwk. Dan dari sana pula aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Aku akan tetap menyayangi, memberikan perhatian kepadanya. Walau aku sudah punya sendiri, hehe.
Kami pun bertemu untuk pertama kalinya paska aku recovery dan pindah rumah. Aku sudah pasrah dengan apa yang akan aku terima nanti. Mungkin dia akan cuek juga kepadaku. Sudah tidak sudi lagi bermain dengan ateu-nya. Sudah benar-benar jadi seorang kakak yang dewasa.
Tapi, ternyata aku salah besar!
Dia tidak seperti yang aku bayangkan! Malah, dia tetap jadi anak yang masih terkesan denganku. Mencari perhatianku. Ya Allah. Aku hanya bisa bergumam dalam hati. Menyebut asma-Nya. Atas betapa kerennya anak kecil. Aku kira dia marah dan putus asa dengan sikapku yang cuek kala ku tinggal di situ. Ternyata, dia tidak menganggapnya. Dia tetap jadi si kakak yang terkesan kepadaku. Dari sana, aku tidak menyia-nyaikan apa yang terjadi.
Saat dia menceritakan gambarnya di kertas kepadaku, aku dengarkan dan respon dengan baik. Sampai pada masa betapa bahagianya dia! Gambarnya dihargai. Aku bilang padanya bahwa gambar yang dia buat untukku dan suami, akan dipajang di kontrakan. Well, dia seneng bangeeet. Ya Allah, aku bersyukur melihat ini. Next time when we meet, let me hold your hands to put a smile in your face, Boy!
Ya, anak kecil memang ajaib! Dia mudah sekali lupa pada sesuatu hal (yang tidak membuatnya traumatik). Mungkin, kesan di awal lebih besar di hatinya sampai dia lupa pada sikapku yang dulu. Ya Allah. Alhamdulillah, trimakasih ya Allah!
Mereka sungguh ajaib! Pelupa pada sesuatu yang memang harus dilupakan. Dan mereka akan terus ingat sesuatu yang mereka alami (yang dirasakan oleh lima inderanya + perasaannya). Entah itu baik atau buruk. Mereka akan ingat selamanya. Maka, alangkah lebih bijaksananya kita, jika mampu menghias memorinya dengan kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh lima inderanya + perasaannya. Agar, memori itu abadi dalam jiwanya. Dan membentuk keperibadiannya menjadi orang yang selalu bahagia dan bersyukur. Apa pun situasinya.
Thanks!
Share: